Hari ini Ney benar-benar sudah masuk sekolah, tetapi Suna justru tidak masuk sekolah. Suna takut bertemu dengan Ney, takut hatinya akan tersakiti jika melihat wajahnya, takut jika Ney tidak mengenalnya dan detak jantungnya akan berhenti begitu saja.
Setelah jam istirahat. Getrin menemui Ney untuk bicara dengannya, Ney acuh tak acuh menerimanya begitu saja. Mereka pergi ke tempat yang sepi yang hanya ada mereka berdua disana, Getrin mengajak Ney ke gedung olahraga. Ney baru tau kalau disekolahnya ada gedung olahraga.
“Ada apa mengajakku kemari? Aku nggak bisa main basket” kata Ney cuek
Getrin menatap Ney dengan pandangan yang begitu sinis. Ney sama sekali nggak mengerti Getrin. Ada apa sih? Entah kenapa Getrin jadi aneh. Apakah perasingan mereka sudah selesai? Ataukah ada masalah lain?
“Aku dengar kau amnesia akan Suna, ya?” tanya Getrin serius
“Lagi-lagi, Suna. Siapa sih? Gak jelas banget!” balas Ney ketus. Dia sepertinya sudah bosan dengan pertanyaan tentang Suna
“Berhentilah berpura-pura bodoh! Aku tau kau pura-pura amnesia,’kan?” kata Getrin menebak.
Ney terdiam dan berpikir senejak. Dia nggak menanggapi pertanyaan Getrin dan hanya ringan membalas..
“Sepertinya iya” katanya memalingkan mata kearah lain
Getrin benar-benar bingung tak mengerti. ‘sepertinya’ tidak masuk akal sekali, atau jangan-jangan Ney ingin melupakan Suna untuk sementara waktu atau apa?
“Kau ingin melupakan Suna, ya?” tanya Getrin, dia merasa bingung dengan pertanyaan Ney
“Iya, setidaknya sampai dia melupakanku” balasnya
Getrin tidak mengerti apa maksudnya. Apa itu artinya Ney menghindar?
“Kau mau kabur?” tanya Getrin
Ney menggeleng. Lalu dia pergi meninggalkan Getrin. Getrin mencoba mencegah tetapi yang dijawab Ney hanyalah membiarkannya untuk sementara. Getrin menurut, meskipun sebenarnya dia tidak yakin dengan Ney. Satu harapan saja dari Getrin, dia ingin menang melawan Suna dengan cara yang imbang.
❦
Suna bosan dirumah. Dia ingin pergi tetapi tak tau ingin kemana. Hari ini menyebalkan sekali, Ney tidak ingat padanya membuatnya malas bersekolah. Kalau saja Ney ingat padanya, Suna pasti tidak akan kebosanan seperti ini.
Suna melihat ponselnya berdering. Telepon dari Getrin. Ada apa? Bukannya seharusnya dia bersekolah?
“Halo?” tanya Getrin
“Halo. Getrin ada apa? Kenapa menelpon? Bukannya kau harusnya bersekolah?” tanya Suna bingung
“Iya, aku lagi disekolah, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita jalan-jalan? Aku yang traktir” balasnya.
Sepertinya Getrin sedang senang sekali hari ini.
Suna tidak merespon. Getrin yang menunggu jawaban Suna terpaksa menutup teleponnya karena bel masuk kelas sudah berbunyi. Getrin lalu menunggu jawaban Suna, dia menyuruh Suna mengirim SMS padanya jika dia ingin jalan-jalan atau tidak lalu langsung menutup teleponnya. Suna sebenarnya ingin, tetapi dirinya sedang malas hari ini, jadi terpaksa dia menolak. Tetapi Suna nggak tega dengan Getrin yang sudah mengajaknya dengan hati yang senang itu, dia nggak ingin senyum Getrin berubah menjadi mendung hanya karena dia menolak tawaran Getrin, jadi dia menerimanya.
❦
Suna sampai di kafe dekat sekolah. Kafe itu benar-benar ramai, banyak sekali orang yang berdatangan terutama murid sekolahnya. Suna melirik ke arah jendela, dia melihat Getrin sudah ada di depan pintu kafe dan bersiap untuk masuk. Suna melihat Getrin datang sendirian, tidak membawa siapa-siapa terutama Ney, Suna lega mengetahuinya.
“Maaf membuatmu lama menunggu” kata Getrin, lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Tak apa, aku juga baru sampai” balasnya sambil tersenyum ke arah Getrin, meski senyumnya dibuat-buat Suna tetap memaksakan diri untuk tersenyum. Jangan sampai senyumannya surut begitu saja.
Pelayan lalu datang menanyakan pesanan, Suna dan Getrin pun memesan apa yang mereka mau lalu pelayan itu mengangguk dan pergi. Suna menatap Getrin sambil tersenyum, dia merasa kalau Getrin sedikit berubah, meski tak tau ada perubahan dimana, tetapi sepertinya Getrin berubah.
“Ada apa melihatku sambil senyum-senyum?” tanya Getrin, dia tau sejak tadi diperhatikan
“Ah, nggak. Sepertinya kau sedikit berubah” balas Suna dan masih tetap memandang Getrin
Getrin tersenyum melihat Suna mengetahuinya. Ternyata Suna peka untuk hal seperti ini. Suna melihat Getrin tersenyum padanya, mulai melalingkan pandangannya. Getrin tertawa, begitu juga dengan Suna. Dia merasa dirinya aneh, dia boleh menatap orang lain tetapi orang lain tidak boleh menatapnya, apa lagi sambil senyum-senyum begitu! Nanti Suna bisa ke-GR-an dibuat Getrin. Tepat pada saat itu, pesanan Suna dan Getrin sudah datang dibawakan si pelayan. Suna dan Getrin mengucapkan terima kasih lalu si pelayan itu pun pergi.
“Oh iya, ada apa mengajakku kesini?” tanya Suna sambil meminum minumannya
“Nggak ada apa-apa. Hanya saja, kenapa tadi kau tidak masuk sekolah? Aku khawatir lho” balas Getrin yang memperhatikan Suna
Suna tidak merespon, dia lalu memalingkan pandangannya dan mulai murung. Getrin tau apa alasannya, Suna pasti takut bertemu dengan Ney. Sudah diduganya, Ney merupakan alasan Suna menjadi aneh akhir-akhir ini. Suna jadi jarang senyum juga mengontaknya, setiap kali di telepon pasti tidak merespon. Meskipun sewaktu dibandara dia terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya dia terpikir akan amnesianya Ney kepadanya. Suna lalu melirik Getrin dan mulai kembali tersenyum
“Getrin, bagaimana keadaan Sumi? Katanya dia sekelas dengan kita, ya?” tanya Suna mengalihkan pembicaraan
“Iya, begitulah, dia duduk dibelakangmu. Tadi dia juga sempat kuatir karena kau tidak masuk” balas Getrin yang menatap jernih wajah Suna
“Begitu, ya… Tadinya aku juga ingin masuk sekolah, tetapi aku bangunnya kesiangan, jadi nggak masuk deh. Kalau pun masuk nanti juga adanya di omeli guru” kata Suna bohong
Getrin percaya dengan apa yang dikatakan Suna. Meski pun dia nggak yakin, tetapi mengingat kebiasaan Suna alasan itu masuk akal baginya.
“Ayo” kata Getrin sudah bersiap berdiri
“Eh? Mau kemana?”
“Bukankah sudah ku bilang kita ingin jalan-jalan? Ayo kita pergi, my Lady” balas Getrin dan memberikan tangannya pada Suna
❦
Ney sebal sekali hari ini. Itu dikarenakan Getrin yang menanyakan tentang Suna lagi dan menebak dia hanya pura-pura amnesia. Memang itu benar, untuk sementara Ney ingin melupakan Suna. Setidaknya, untuk sementara…
Apa aku bisa..? tanya Ney. Sepertinya dia gelisah.
Ney menyandarkan kepalanya di tembok kamarnya, merenungkan apa yang terjadi hari ini. Ney merasa sebal, apa lagi Getrin yang sepulang sekolah memberitau kalau dia akan jalan-jalan dengan Suna. Itu membuat Ney ingin memata-matai Suna dan Getrin. Tetapi apa bisa? Dia,’kan sedang berpura-pura amnesia akan Suna. Jadi terpaksa membiarkan Getrin dengan Suna. Satu harapannya, dia ingin agar Suna tidak jatuh cinta pada Getrin. Hatinya bisa sakit karena hal itu, tetapi mungkin keputusannya untuk melupakan Suna malah akan membari kesempatan pada Getrin, apa lagi pada saat itu Ney tidak sengaja mendengar kalimat yang tak ingin didengarnya.
Ah… Pikiranku kacau lagi..! gerutu Ney
Dadanya terasa sakit, seperti diremas-remas. Dia ingin bertemu Suna, meminta maaf padanya akan apa yang dia lakukan
“Ah..!! Sial!”
Sabtu, 23 Oktober 2010
Selasa, 12 Oktober 2010
Between 2 Love (Chapter 11 : Do you forget me?)
Hari ini Ney sudah boleh keluar rumah sakit. Keadaannya sudah membaik dan dia bisa bersekolah lagi. Meski pun begitu, Ney masih saja amnesia akan Suna. Ditanya berkali-kali dia pasti tidak tau. Dokter bilang Ney amnesia akan hal yang memang ingin dilupakannya, itu berarti Ney ingin melupakan Suna? Tapi Halzen tetap saja mengingatkan Ney akan Suna, meski Ney berkali-kali menyuruh kakaknya untuk tidak membahas Suna tetapi Halzen tetap saja berseri keras.
“Kakak, berapa kali harus aku beritau kalau aku nggak kenal dia?” tanya Ney sudah mulai sebal dengan Halzen
“Entahlah, tapi aku nggak yakin kau lupa” balas Halzen yang menatap wajah Ney dengan ekspresi sebal
Ney pun pergi berlari meninggalkan Halzen tanpa bertanya atau pun berkata apa-apa lagi, dia sudah bosan dengan pertanyaan kakaknya itu dan berharap dia tidak akan mengatakan apa-apa lagi tentang Suna.
Halzen merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, dia menelpon Suna dan memberitau kalau Ney sudah bisa bersekolah lagi, tetapi Suna tidak memberi respon dari sana, dia tau meski pun Ney masuk sekolah dirinya tidak ada dalam pikiran Ney. Kenapa disaat Ney menyukainya dia malah cuek? Sekarang malah keadaan berbalik. Apa tidak ada cara supaya ingatan Ney kembali padanya? Halzen menutup teleponnya lalu pergi mengejar Ney. Dia tau kalau Ney pergi menemui pasukannya yang dianggapnya bocah-bocah. Halzen melihat Ney pergi memasuki rental game, seperti yang sudah dia duga, pasti janjian ketemu di rental game.
Menyebalkan, baru sehat langsung main game! Kalau luka lagi nggak tanggung deh! Kata Halzen sebal.
Halzen pergi meninggalkan Ney, membiarkannya melakukan apapun sesukanya, tak peduli apa yang akan terjadi padanya nanti itu bukan lagi urusannya. Yang terpenting Ney sudah baikkan dan sekarang malah main game bukannya istirahat. Anak yang petakilan yang menyebalkan!
“Kalau sampai ambulance mengangkutmu lagi, aku nggak mau mempedulikanmu lagi”
❦
Suna mendengar ponselnya berbunyi. Telepon dari siapa? Nomornya tidak ada di kontak list-nya. Suna tak mempedulikannya dan tetap mengangkatnya. Dia mendengar suara seorang cowok yang tak asing baginya.
“Halo?”
“Ya? Ini siapa ya?”
“Ini aku, Halzen”
Suna terdiam sejenak sambil berpikir. Tunggu dulu, bagaimana Halzen bisa tau nomor telponnya padahal dia tidak pernah memberitaunya. Suna juga nggak pernah memberitaukan nomornya ke Ney, bagaimana bisa?
“Darimana kau tau nomorku?” tanya Suna yang mengerutkan kening
“Aku dapat dari Getrin, katanya dia punya nomormu, jadi aku minta. Maaf mengagetkanmu”
“Tak apa. Ada apa? Tumben menelpon”
“Aku igin memberitaukanmu, kalau Ney sudah bisa keluar dari Rumah Sakit dan boleh bersekolah lagi” kata Halzen, sepertinya dia terdengar senang, tetapi suaranya mulai jadi surut
“Tapi sayangnya dia amnesia akan dirimu” sambungnya, wajah Halzen mulai buram
Suna terdiam murung. Dadanya mulai sakit.
Sudah diduganya kalau Ney bermaksud untuk melupakannya, entah apa yang dilakukannya tetapi pasti sudah membuat Ney menderita sampai-sampai ingin melupakannya.
“Halo? Suna?” tanya Halzen karena Suna tidak merespon apa-apa. Sebenarnya Halzen tau kalau Suna pasti serak mendengarnya.
“Suna? Kau baik-baik saja? Kalau kau syok, bagaimana kalau kita ketemuan saja? Mungkin aku bisa sedikit menghiburmu”
Tidak…
Suna tidak bisa bergerak, dia ingin membalas perkataan Halzen tetapi mulutnya tak mau terbuka untuk berbicara. Dadanya sakit, jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Sulit untuk bernafas karena sakit. Sakit sekali jika seseorang yang dicintai melupakan seseorang yang mencintai..
Halzen terdiam mendengar Suna tidak merespon. Dia lalu menutup teleponnya dan membiarkan Suna untuk menenangkan diri sejenak. Jika tau akan seperti ini seharusnya Halzen tidak memberitaukannya, apa lagi amnesianya Ney terhadap Suna. Halzen menyandarkan kepalanya di pohon dibelakangnya lalu menatap langit dan dedaunan yang gugur.
“Suna, maafkan aku..” kata Halzen yang menatap langit dan dedaunan
“Apa seharusnya aku tak perlu memberitaukanmu?”
Sakit…
“Maaf..”
Sakit sekali…
“Aku nggak bermaksud…”
Jika seseorang yang dicintai melupakan orang yang mencintai. Bagaimana perasaan orang yang mencintai itu? Pasti akan terluka, menangis, dan terasa amat sangat sakit… Jika dilupakan dan melupakan, akan terasa sakit…
Suna masih terdiam tidak berkata. Dia tidak menyadari kalau air matanya sudah menetes jatuh ke tangannya.
Jangan.. Jangan menangis… Untuk sekali ini saja, jangan menangis… Aku tau kau kuat… Setidaknya, sekali saja untuk masalah ini..
“Kakak, berapa kali harus aku beritau kalau aku nggak kenal dia?” tanya Ney sudah mulai sebal dengan Halzen
“Entahlah, tapi aku nggak yakin kau lupa” balas Halzen yang menatap wajah Ney dengan ekspresi sebal
Ney pun pergi berlari meninggalkan Halzen tanpa bertanya atau pun berkata apa-apa lagi, dia sudah bosan dengan pertanyaan kakaknya itu dan berharap dia tidak akan mengatakan apa-apa lagi tentang Suna.
Halzen merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, dia menelpon Suna dan memberitau kalau Ney sudah bisa bersekolah lagi, tetapi Suna tidak memberi respon dari sana, dia tau meski pun Ney masuk sekolah dirinya tidak ada dalam pikiran Ney. Kenapa disaat Ney menyukainya dia malah cuek? Sekarang malah keadaan berbalik. Apa tidak ada cara supaya ingatan Ney kembali padanya? Halzen menutup teleponnya lalu pergi mengejar Ney. Dia tau kalau Ney pergi menemui pasukannya yang dianggapnya bocah-bocah. Halzen melihat Ney pergi memasuki rental game, seperti yang sudah dia duga, pasti janjian ketemu di rental game.
Menyebalkan, baru sehat langsung main game! Kalau luka lagi nggak tanggung deh! Kata Halzen sebal.
Halzen pergi meninggalkan Ney, membiarkannya melakukan apapun sesukanya, tak peduli apa yang akan terjadi padanya nanti itu bukan lagi urusannya. Yang terpenting Ney sudah baikkan dan sekarang malah main game bukannya istirahat. Anak yang petakilan yang menyebalkan!
“Kalau sampai ambulance mengangkutmu lagi, aku nggak mau mempedulikanmu lagi”
❦
Suna mendengar ponselnya berbunyi. Telepon dari siapa? Nomornya tidak ada di kontak list-nya. Suna tak mempedulikannya dan tetap mengangkatnya. Dia mendengar suara seorang cowok yang tak asing baginya.
“Halo?”
“Ya? Ini siapa ya?”
“Ini aku, Halzen”
Suna terdiam sejenak sambil berpikir. Tunggu dulu, bagaimana Halzen bisa tau nomor telponnya padahal dia tidak pernah memberitaunya. Suna juga nggak pernah memberitaukan nomornya ke Ney, bagaimana bisa?
“Darimana kau tau nomorku?” tanya Suna yang mengerutkan kening
“Aku dapat dari Getrin, katanya dia punya nomormu, jadi aku minta. Maaf mengagetkanmu”
“Tak apa. Ada apa? Tumben menelpon”
“Aku igin memberitaukanmu, kalau Ney sudah bisa keluar dari Rumah Sakit dan boleh bersekolah lagi” kata Halzen, sepertinya dia terdengar senang, tetapi suaranya mulai jadi surut
“Tapi sayangnya dia amnesia akan dirimu” sambungnya, wajah Halzen mulai buram
Suna terdiam murung. Dadanya mulai sakit.
Sudah diduganya kalau Ney bermaksud untuk melupakannya, entah apa yang dilakukannya tetapi pasti sudah membuat Ney menderita sampai-sampai ingin melupakannya.
“Halo? Suna?” tanya Halzen karena Suna tidak merespon apa-apa. Sebenarnya Halzen tau kalau Suna pasti serak mendengarnya.
“Suna? Kau baik-baik saja? Kalau kau syok, bagaimana kalau kita ketemuan saja? Mungkin aku bisa sedikit menghiburmu”
Tidak…
Suna tidak bisa bergerak, dia ingin membalas perkataan Halzen tetapi mulutnya tak mau terbuka untuk berbicara. Dadanya sakit, jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Sulit untuk bernafas karena sakit. Sakit sekali jika seseorang yang dicintai melupakan seseorang yang mencintai..
Halzen terdiam mendengar Suna tidak merespon. Dia lalu menutup teleponnya dan membiarkan Suna untuk menenangkan diri sejenak. Jika tau akan seperti ini seharusnya Halzen tidak memberitaukannya, apa lagi amnesianya Ney terhadap Suna. Halzen menyandarkan kepalanya di pohon dibelakangnya lalu menatap langit dan dedaunan yang gugur.
“Suna, maafkan aku..” kata Halzen yang menatap langit dan dedaunan
“Apa seharusnya aku tak perlu memberitaukanmu?”
Sakit…
“Maaf..”
Sakit sekali…
“Aku nggak bermaksud…”
Jika seseorang yang dicintai melupakan orang yang mencintai. Bagaimana perasaan orang yang mencintai itu? Pasti akan terluka, menangis, dan terasa amat sangat sakit… Jika dilupakan dan melupakan, akan terasa sakit…
Suna masih terdiam tidak berkata. Dia tidak menyadari kalau air matanya sudah menetes jatuh ke tangannya.
Jangan.. Jangan menangis… Untuk sekali ini saja, jangan menangis… Aku tau kau kuat… Setidaknya, sekali saja untuk masalah ini..
Kamis, 07 Oktober 2010
Between 2 Love (Chapter 10 : The Lost sister)
Sepulang sekolah, Suna langsung menyalakan Laptopnya dan menulis novelnya. Dia benar-benar sedang mod menulis, impiannya menjadi seorang novelis ingin sekali cepat terwujud. Meski dia masih bersekolah, tidak ada salahnya anak sekolah menulis novel bukan? Suna tak ingin impiannya menjadi novelis tertunda hanya karena umur. Lagi pula dia masih pemula dan harus banyak belajar, jadi dimaklumi saja.
Suna melirik kea rah jam, tak disadarinya sudah 3jam berlalu semenjak dia menulis. Tangannya pegal sekali, belum lagi dia harus mengetiknya dan menyerahkannya ke pusat. Membubtuhkan waktu yang lama. Meski pun novelnya diminati teman-teman di dunia maya, Suna belum yakin novelnya bisa diminati di dunia nyata.
“Lalu nanti, Earl akan memeluk Victoria dibawah salju yang sedang turun” katanya sambil menulis Novelnya.
Tak lama, suara ponselnya berdering. Telpon dari kakaknya. Sudah hampir sebulan dia tidak pulang.
Suna mengangkat telpon dari kakaknya itu dan mengarahkannya ke telinga
“Halo” katanya
“Suna? Kau bisa menjemputku tidak?” Tanya kakaknya
“Apa? Kakak kemana?” Tanya Suna
“Aku sibuk akhir-akhir ini. Maaf waktu itu aku berjanji menginap 1 hari, tapi karena tiba-tiba dosen memberi tugas lagi, makanya aku pergi ke luar kota mencari sesuatu. Maaf nggak bilang-bilang. Sekarang kau bisa menjemputku? Dibandara. Ok? Sampai jumpa” jelas kakaknya dan langsung menutup telponnya
Suna belum berbicara banyak. Kakaknya memang menyebalkan, selalu saja melakukan hal yang membuatnya langsung sebal setengah mati padanya. Jika sudah bertemu dengan kakaknya nanti, Suna ingin sekali memukulnya lalu marah-marah nggak jelas!
❦
Getrin pergi kebandara menjemput adiknya pulang dari Jepang. Seperti dugaannya, sulit mencari adiknya yang sering hilang-hilangan.
“Dasar, kau ini… kemana saja sih? Aku sampai kewalahan mencarimu!” gerutu Getrin sebal.
Adiknya hanya senyum-senyum melihat kakaknya. Getrin mengangkat alisnya lalu pergi membeli minum untuknya. Tepat pada saat itu, Getrin melihat seorang gadis yang mungkin saja pernah ditemuinya. Getrin mencoba menghampiri gadis itu. Ternyata dia tidak salah, itu Suna sahabatnya!
“Suna!” tegur Getrin sambil melambai-lambaikan tangannya dikerumunan orang banyak.
Suna melirik ke arah suara tersebut. Dia merasa pernah mendengar suara itu. Suna melihat sekelilingnya dan mendapati Getrin berada di belakangnya sedang melambai-lambaikan tangannya. Suna langsung berlari kearah Getrin sambil tersenggal-senggal.
“Kau sedang apa disini?” Tanya Getrin
“Menjemput kakak, habis melayap dari rumah dan nggak pulang 3 hari” balas Suna sebal sambil melipat tangannya.
“Kau sendiri sedang apa?” Tanya Suna
“Menjemput Sumi, kau tau,’kan dia baru saja pulang dari Jepang?” balas Getrin
Suna menangguk. Kemudian dia buru-buru meninggalkan Getrin karena kakaknya menunggunya. Getrin tidak membiarkan Suna sendirian, jadi dia menemaninya menemui kakaknya. Suna tersenyum senang lalu dia dengan Getrin pergi mencari kakaknya.
❦
Kak Getrin lama… pikir Sumi yang duduk tenang di bangku yang ada di bandara
Aku ingin mencarinya, mungkin saja dia ada masalah sambung Sumi lalu pergi mencari kakaknya.
Sumi tau kakaknya menyuruhnya untuk tinggal disitu, tetapi Sumi bosan karena kakaknya tidak datang-datang, jadi dia terpaksa mencarinya. Sumi pergi mencari kakaknya mengelilingi bandara, entah kakaknya sadar atau tidak, Sumi tetap saja mencarinya karena dia paling tidak suka menunggu…
Kakak dimana, ya..? Apa jangan-jangan tersesat? Tanya Sumi sambil melirik kesana-sini
Tanpa Sumi sadari, sudah 2 jam berlalu semenjak dia mencari kakaknya. Sekarang dia tidak tau ada dimana. Sumi pun berlari tanpa arah, mencari tempat yang ramai dengan orang-orang karena dia takut sendirian.
Kemana jalan kembali…? Sumi panik setengah mati, kuatir kakaknya sudah meninggalkannya dibandara sendirian. Sumi lalu mencoba menghubungi kakaknya, tetapi dia ingat kalau dia tidak menyimpan nomor kakaknya di ponselnya. Yang dia simpan hanyalah nomor rumah saja. Sumi lalu menelpon rumahnya, setelah tersambung Sumi langsung bertanya pada seseorang yang mengangkat telepon apakah kakaknya ada disana
“Halo? Ini Sumi, sekarang aku tersesat dibandara, apa disana ada kakak?” tanya Sumi panik
“Sumi! Kau sudah pulang? Kenapa nggak kabar-kabar?” tanya seseorang ditelepon tanpa memberi jawaban atas pertanyaaan Sumi
Sumi terdiam sejenak sambil berpikir, entah kenapa dia kenal suara ini… Hm… Ah iya! Ini kan Shelley sepupunya. Ternyata dia ada dirumahnya! Sedang apa dia?
“Ini Shelley-chan, ya? Apa kabar? Iya, maaf nggak kabar-kabar, kemarin aku sibuk sekali sampai-sampai aku baru saja pagi tadi menghubungi kakak” kata Sumi tersenyum sampai lupa apa maksud tujuannya menelpon ke rumah
“Oh, nggak apa-apa kok! Aku tau betapa sibuknya dirimu Sumi”
“Ngomong-ngomong, kenapa kau ada dirumahku Shelley-chan?”
“Iya, aku menginap seminggu disini, besok pulang. Soalnya aku ada tugas penting”
“Oh”
“Oya, tadi kau ingin menyampaikan apa?”
Sumi mengerutkan kening. Dia lalu berpikir sejenak sampai-sampai dia merasa ada meteorit jatuh ke kepalanya dan baru ingat apa yang ingin dikatakannya.
“Shelley-chan, kak Getrin ada dirumah tidak?” tanya Sumi nggak sabaran
“Nggak, memangnya kenapa?” tanya Shelley sambil menggaruk-garuk kepalanya
“Kalau kak Getrin ada dirumah, tolong hubungi aku, ya! Arigatou”
Sumi langsung menutup telponnya dan kembali mencari kakaknya. Dia pergi kesana-sini tetapi tidak menemukan kakaknya. Kemana dia?
“Kakak kemana sih…?” tanya Sumi yang mulai meneteskan air matanya
Sesaat, ada seseorang yang menegur Sumi, ketika Sumi melirik ke arah suara itu. Suaranya suara perempuan, dia sudah tidak berharap kalau orang itu adalah kakaknya, tetapi ternyata orang asing yang sepertinya dia kenali…
“Hi Sumi” katanya sambil melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum pada Sumi
Sumi hanya diam tidak merespon sapaannya. Sumi pun semakin lama semakin mundur dan menjauhi wanita. wanita nggak mengerti apa maksud Sumi menjauhinya, dia pun tersenyum.
“Kau lupa siapa aku, ya?” tanyanya
Sumi mengangguk, bahkan mungkin dia tidak kenal siapa orang itu, meski warna matanya tak asing baginya.
“Ini aku Seirei” katanya
Sumi tetap diam. Dia berharap bisa kabur sekarang, wanita itu benar-benar memiliki mata yang membuatnya takut. Sumi ingin kakaknya datang sekarang, dia ingin kabur tetapi tidak bisa. kakinya sudah tidak mau bergerak, seperti lumpuh. Tetapi kakinya masih bisa menopang tubuhnya yang membawa tas besar.
“Kau benar-benar lupa, ya? ini aku Seirei, tante Seirei, atau bisa dibilang Rui” katanya ingin membuat Sumi ingat.
Sumi mencoba berpikir sejenak. Nama “Rui” tak asing baginya. Saat diingat-ingat, Sumi ingat kalau dia itu Tantenya! Nggak disangka sudah 3 tahun tak bertemu langsung lupa. Apa lagi dia tante kesayangannya. Duuh… apa karena dia sedang panik otaknya jadi berkerja seperti siput, ya..?
“Aku ingat! Tantu Rui, kan? Aduuh.. maaf, aku sedang panik jadi kerja otakku sedikit lamban, maaf..” kata Sumi yang menundukkan kepalanya.
Rui tersenyum, lalu mengelus-elus kepala Sumi. Sumi hanya diam, dirinya merasa imut dimata Rui.
“Tak apa. Ada apa? Sepertinya kau kelelahan sekali, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Mungkin bisa membuatmu sedikit relax” saran Rui
Sumi berpikir sejenak, dia ingin ikut tantenya, tetapi sekarang harus mencari kakaknya yang dimana dia tidak tau sedang berada dimana. Rui yang melihat Sumi gelisah pun, mencoba membantu meringankan bebannya.
“Ada apa? Sepertinya kau punya masalah. Mau ceritakan padaku?” tanya Rui
“Itu, aku tersesat.. Sekarang sedang mencari kakak, tetapi aku tidak tau kakak ada dimana” kata Sumi menundukkan kepalanya
“Aku mengerti, bagaimana kalau aku ikut membantumu mencari kakakmu?” tanya Rui dengan suara yang begitu lembut
Sumi tersenyum dan mengangguk senang. Sekarang Rui mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Getrin, dan mengajak Sumi untuk istirahat sejenak disebuah kafe dekat bandara. Sumi merasa lega karena ada tante Rui yang mau membantunya, dia benar-benar merasa beruntung memiliki tante yang baik sepertinya..
❦
Getrin bingung harus mencari Sumi kemana lagi. Meski Suna dan kakaknya Yuuga sudah membantunya, tetap saja tidak ketemu
“Sama sekali nggak ada! Sumi kemana sih..?” tanya Suna cemas
“Padahal tadi aku sudah menyuruhnya untuk menunggu sebentar, tetapi aku malah terlalu lama, aku hanya kuatir jika dia diculik..” kata Getrin murung, panik jika hal itu akan terjadi.
“Kita cari sekali lagi, bagaimana?” saran Yuuga
“Nggak bisa! Kau kira aku nggak kelelahan mencarinya? Aku butuh istirahat” keluh Suna
“Dasar payah!”
“Biarin!”
Suna melirik Getrin yang merogoh saku celananya, ponsel Getrin berdering, telpon dari siapa?
“Halo?”
“Getrin,’kan? Ini aku tante Rui”
“Eh? Tante? Lama tak berjumpa. Bagaimana keadaan anda? Baik?”
“Ya, bisa dikatakan begitu. Sekarang aku sedang bersama dengan Sumi. Dia mencarimu dari tadi”
“Apa? Anda bersama Sumi? Dimana dia?”
“Sekarang dia sedang bersamaku di kafe dekat pintu kedatangan luar negri. Apa kau bisa kemari?”
“Tentu saja! Sangat bisa! saya akan segera kesana”
Getrin langsung menutup teleponnya dan mengatakan kalau Sumi berada bersama tantenya. Suna dan Yuuga merasa lebih tenang. Syukurlah Sumi nggak apa-apa. Mereka bertiga pun langsung pergi menemui Sumi di kafe, ternyata benar Sumi ada disana sedang asik minum capucino.
“Ya ampun! Anak ini di-wanted-wanted malah asik minum capucino!” gerutu Yuuga
“Kalau kalian mau akan aku belikan juga” kata Rui menawarkan dengan senyumnya.
Yuuga menggeleng. Dia tidak suka capucino, lebih suka menum coffe. Suna pun langsung duduk disamping Sumi dan minta sedikit capucino-nya. Sumi tidak mau memberikannya, Rui lalu memesan 1 capucino lagi untuk Suna. Suna pun tersenyum malu karena kuatir dianggap merepotkan, tetapi tidak, justru Rui amat sangat senang jika bisa membelikan sesuatu yang diinginkan seseorang.
“Suna-chan, kenapa bisa ada disini?” tanya Sumi sambil meminum capucino-nya
“Aku datang menjemput kakak, dia habis tugas ke luar kota” balas Suna yang melihat Sumi asik minum capucino dan nggak ingin berbagi.
Tak lama, capucino pesanan Suna datang. Suna sudah tak butuh Sumi untuk minta, tetapi kali ini malah Sumi yang minta ke Suna. Suna pun berbaik hati pada Sumi. Dia masih ingat kalau Sumi sedikit ke kanak-kanakkan. Padahal Sumi seumur dengannya dan sekarang akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Suna berharap dia akan sekelas dengan Sumi. Begitu juga dengan Sumi, berharap akan sekelas dengannya.
“Suna-chan, bagaimana keadaan Syuna-chan?” tanya Sumi
“Entahlah, aku sudah lama nggak berhubungan dengannya” balas Suna murung
Ya, sudah lama tak berhubungan dengannya, semenjak kakaknya pindah sekolah akibat ulah temannya, Renna. Anak itu selalu saja menjahati Suna dan Syuna, padahal mereka berdua nggak salah apa-apa. Menyebalkan! Selalu saja mengganggu! Tetapi meskipun begitu, sekarang Renna pergi ke luar kota, kehidupan sekolah Suna pun menjadi damai, tetapi kakaknya tetap saja tidak ingin kembali kesekolah yang lama. Dia ingin berada di sekolahnya yang sekarang. Dia merasa nyaman disana.
Suna melirik kea rah jam, tak disadarinya sudah 3jam berlalu semenjak dia menulis. Tangannya pegal sekali, belum lagi dia harus mengetiknya dan menyerahkannya ke pusat. Membubtuhkan waktu yang lama. Meski pun novelnya diminati teman-teman di dunia maya, Suna belum yakin novelnya bisa diminati di dunia nyata.
“Lalu nanti, Earl akan memeluk Victoria dibawah salju yang sedang turun” katanya sambil menulis Novelnya.
Tak lama, suara ponselnya berdering. Telpon dari kakaknya. Sudah hampir sebulan dia tidak pulang.
Suna mengangkat telpon dari kakaknya itu dan mengarahkannya ke telinga
“Halo” katanya
“Suna? Kau bisa menjemputku tidak?” Tanya kakaknya
“Apa? Kakak kemana?” Tanya Suna
“Aku sibuk akhir-akhir ini. Maaf waktu itu aku berjanji menginap 1 hari, tapi karena tiba-tiba dosen memberi tugas lagi, makanya aku pergi ke luar kota mencari sesuatu. Maaf nggak bilang-bilang. Sekarang kau bisa menjemputku? Dibandara. Ok? Sampai jumpa” jelas kakaknya dan langsung menutup telponnya
Suna belum berbicara banyak. Kakaknya memang menyebalkan, selalu saja melakukan hal yang membuatnya langsung sebal setengah mati padanya. Jika sudah bertemu dengan kakaknya nanti, Suna ingin sekali memukulnya lalu marah-marah nggak jelas!
❦
Getrin pergi kebandara menjemput adiknya pulang dari Jepang. Seperti dugaannya, sulit mencari adiknya yang sering hilang-hilangan.
“Dasar, kau ini… kemana saja sih? Aku sampai kewalahan mencarimu!” gerutu Getrin sebal.
Adiknya hanya senyum-senyum melihat kakaknya. Getrin mengangkat alisnya lalu pergi membeli minum untuknya. Tepat pada saat itu, Getrin melihat seorang gadis yang mungkin saja pernah ditemuinya. Getrin mencoba menghampiri gadis itu. Ternyata dia tidak salah, itu Suna sahabatnya!
“Suna!” tegur Getrin sambil melambai-lambaikan tangannya dikerumunan orang banyak.
Suna melirik ke arah suara tersebut. Dia merasa pernah mendengar suara itu. Suna melihat sekelilingnya dan mendapati Getrin berada di belakangnya sedang melambai-lambaikan tangannya. Suna langsung berlari kearah Getrin sambil tersenggal-senggal.
“Kau sedang apa disini?” Tanya Getrin
“Menjemput kakak, habis melayap dari rumah dan nggak pulang 3 hari” balas Suna sebal sambil melipat tangannya.
“Kau sendiri sedang apa?” Tanya Suna
“Menjemput Sumi, kau tau,’kan dia baru saja pulang dari Jepang?” balas Getrin
Suna menangguk. Kemudian dia buru-buru meninggalkan Getrin karena kakaknya menunggunya. Getrin tidak membiarkan Suna sendirian, jadi dia menemaninya menemui kakaknya. Suna tersenyum senang lalu dia dengan Getrin pergi mencari kakaknya.
❦
Kak Getrin lama… pikir Sumi yang duduk tenang di bangku yang ada di bandara
Aku ingin mencarinya, mungkin saja dia ada masalah sambung Sumi lalu pergi mencari kakaknya.
Sumi tau kakaknya menyuruhnya untuk tinggal disitu, tetapi Sumi bosan karena kakaknya tidak datang-datang, jadi dia terpaksa mencarinya. Sumi pergi mencari kakaknya mengelilingi bandara, entah kakaknya sadar atau tidak, Sumi tetap saja mencarinya karena dia paling tidak suka menunggu…
Kakak dimana, ya..? Apa jangan-jangan tersesat? Tanya Sumi sambil melirik kesana-sini
Tanpa Sumi sadari, sudah 2 jam berlalu semenjak dia mencari kakaknya. Sekarang dia tidak tau ada dimana. Sumi pun berlari tanpa arah, mencari tempat yang ramai dengan orang-orang karena dia takut sendirian.
Kemana jalan kembali…? Sumi panik setengah mati, kuatir kakaknya sudah meninggalkannya dibandara sendirian. Sumi lalu mencoba menghubungi kakaknya, tetapi dia ingat kalau dia tidak menyimpan nomor kakaknya di ponselnya. Yang dia simpan hanyalah nomor rumah saja. Sumi lalu menelpon rumahnya, setelah tersambung Sumi langsung bertanya pada seseorang yang mengangkat telepon apakah kakaknya ada disana
“Halo? Ini Sumi, sekarang aku tersesat dibandara, apa disana ada kakak?” tanya Sumi panik
“Sumi! Kau sudah pulang? Kenapa nggak kabar-kabar?” tanya seseorang ditelepon tanpa memberi jawaban atas pertanyaaan Sumi
Sumi terdiam sejenak sambil berpikir, entah kenapa dia kenal suara ini… Hm… Ah iya! Ini kan Shelley sepupunya. Ternyata dia ada dirumahnya! Sedang apa dia?
“Ini Shelley-chan, ya? Apa kabar? Iya, maaf nggak kabar-kabar, kemarin aku sibuk sekali sampai-sampai aku baru saja pagi tadi menghubungi kakak” kata Sumi tersenyum sampai lupa apa maksud tujuannya menelpon ke rumah
“Oh, nggak apa-apa kok! Aku tau betapa sibuknya dirimu Sumi”
“Ngomong-ngomong, kenapa kau ada dirumahku Shelley-chan?”
“Iya, aku menginap seminggu disini, besok pulang. Soalnya aku ada tugas penting”
“Oh”
“Oya, tadi kau ingin menyampaikan apa?”
Sumi mengerutkan kening. Dia lalu berpikir sejenak sampai-sampai dia merasa ada meteorit jatuh ke kepalanya dan baru ingat apa yang ingin dikatakannya.
“Shelley-chan, kak Getrin ada dirumah tidak?” tanya Sumi nggak sabaran
“Nggak, memangnya kenapa?” tanya Shelley sambil menggaruk-garuk kepalanya
“Kalau kak Getrin ada dirumah, tolong hubungi aku, ya! Arigatou”
Sumi langsung menutup telponnya dan kembali mencari kakaknya. Dia pergi kesana-sini tetapi tidak menemukan kakaknya. Kemana dia?
“Kakak kemana sih…?” tanya Sumi yang mulai meneteskan air matanya
Sesaat, ada seseorang yang menegur Sumi, ketika Sumi melirik ke arah suara itu. Suaranya suara perempuan, dia sudah tidak berharap kalau orang itu adalah kakaknya, tetapi ternyata orang asing yang sepertinya dia kenali…
“Hi Sumi” katanya sambil melambai-lambaikan tangannya dan tersenyum pada Sumi
Sumi hanya diam tidak merespon sapaannya. Sumi pun semakin lama semakin mundur dan menjauhi wanita. wanita nggak mengerti apa maksud Sumi menjauhinya, dia pun tersenyum.
“Kau lupa siapa aku, ya?” tanyanya
Sumi mengangguk, bahkan mungkin dia tidak kenal siapa orang itu, meski warna matanya tak asing baginya.
“Ini aku Seirei” katanya
Sumi tetap diam. Dia berharap bisa kabur sekarang, wanita itu benar-benar memiliki mata yang membuatnya takut. Sumi ingin kakaknya datang sekarang, dia ingin kabur tetapi tidak bisa. kakinya sudah tidak mau bergerak, seperti lumpuh. Tetapi kakinya masih bisa menopang tubuhnya yang membawa tas besar.
“Kau benar-benar lupa, ya? ini aku Seirei, tante Seirei, atau bisa dibilang Rui” katanya ingin membuat Sumi ingat.
Sumi mencoba berpikir sejenak. Nama “Rui” tak asing baginya. Saat diingat-ingat, Sumi ingat kalau dia itu Tantenya! Nggak disangka sudah 3 tahun tak bertemu langsung lupa. Apa lagi dia tante kesayangannya. Duuh… apa karena dia sedang panik otaknya jadi berkerja seperti siput, ya..?
“Aku ingat! Tantu Rui, kan? Aduuh.. maaf, aku sedang panik jadi kerja otakku sedikit lamban, maaf..” kata Sumi yang menundukkan kepalanya.
Rui tersenyum, lalu mengelus-elus kepala Sumi. Sumi hanya diam, dirinya merasa imut dimata Rui.
“Tak apa. Ada apa? Sepertinya kau kelelahan sekali, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan? Mungkin bisa membuatmu sedikit relax” saran Rui
Sumi berpikir sejenak, dia ingin ikut tantenya, tetapi sekarang harus mencari kakaknya yang dimana dia tidak tau sedang berada dimana. Rui yang melihat Sumi gelisah pun, mencoba membantu meringankan bebannya.
“Ada apa? Sepertinya kau punya masalah. Mau ceritakan padaku?” tanya Rui
“Itu, aku tersesat.. Sekarang sedang mencari kakak, tetapi aku tidak tau kakak ada dimana” kata Sumi menundukkan kepalanya
“Aku mengerti, bagaimana kalau aku ikut membantumu mencari kakakmu?” tanya Rui dengan suara yang begitu lembut
Sumi tersenyum dan mengangguk senang. Sekarang Rui mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Getrin, dan mengajak Sumi untuk istirahat sejenak disebuah kafe dekat bandara. Sumi merasa lega karena ada tante Rui yang mau membantunya, dia benar-benar merasa beruntung memiliki tante yang baik sepertinya..
❦
Getrin bingung harus mencari Sumi kemana lagi. Meski Suna dan kakaknya Yuuga sudah membantunya, tetap saja tidak ketemu
“Sama sekali nggak ada! Sumi kemana sih..?” tanya Suna cemas
“Padahal tadi aku sudah menyuruhnya untuk menunggu sebentar, tetapi aku malah terlalu lama, aku hanya kuatir jika dia diculik..” kata Getrin murung, panik jika hal itu akan terjadi.
“Kita cari sekali lagi, bagaimana?” saran Yuuga
“Nggak bisa! Kau kira aku nggak kelelahan mencarinya? Aku butuh istirahat” keluh Suna
“Dasar payah!”
“Biarin!”
Suna melirik Getrin yang merogoh saku celananya, ponsel Getrin berdering, telpon dari siapa?
“Halo?”
“Getrin,’kan? Ini aku tante Rui”
“Eh? Tante? Lama tak berjumpa. Bagaimana keadaan anda? Baik?”
“Ya, bisa dikatakan begitu. Sekarang aku sedang bersama dengan Sumi. Dia mencarimu dari tadi”
“Apa? Anda bersama Sumi? Dimana dia?”
“Sekarang dia sedang bersamaku di kafe dekat pintu kedatangan luar negri. Apa kau bisa kemari?”
“Tentu saja! Sangat bisa! saya akan segera kesana”
Getrin langsung menutup teleponnya dan mengatakan kalau Sumi berada bersama tantenya. Suna dan Yuuga merasa lebih tenang. Syukurlah Sumi nggak apa-apa. Mereka bertiga pun langsung pergi menemui Sumi di kafe, ternyata benar Sumi ada disana sedang asik minum capucino.
“Ya ampun! Anak ini di-wanted-wanted malah asik minum capucino!” gerutu Yuuga
“Kalau kalian mau akan aku belikan juga” kata Rui menawarkan dengan senyumnya.
Yuuga menggeleng. Dia tidak suka capucino, lebih suka menum coffe. Suna pun langsung duduk disamping Sumi dan minta sedikit capucino-nya. Sumi tidak mau memberikannya, Rui lalu memesan 1 capucino lagi untuk Suna. Suna pun tersenyum malu karena kuatir dianggap merepotkan, tetapi tidak, justru Rui amat sangat senang jika bisa membelikan sesuatu yang diinginkan seseorang.
“Suna-chan, kenapa bisa ada disini?” tanya Sumi sambil meminum capucino-nya
“Aku datang menjemput kakak, dia habis tugas ke luar kota” balas Suna yang melihat Sumi asik minum capucino dan nggak ingin berbagi.
Tak lama, capucino pesanan Suna datang. Suna sudah tak butuh Sumi untuk minta, tetapi kali ini malah Sumi yang minta ke Suna. Suna pun berbaik hati pada Sumi. Dia masih ingat kalau Sumi sedikit ke kanak-kanakkan. Padahal Sumi seumur dengannya dan sekarang akan bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Suna berharap dia akan sekelas dengan Sumi. Begitu juga dengan Sumi, berharap akan sekelas dengannya.
“Suna-chan, bagaimana keadaan Syuna-chan?” tanya Sumi
“Entahlah, aku sudah lama nggak berhubungan dengannya” balas Suna murung
Ya, sudah lama tak berhubungan dengannya, semenjak kakaknya pindah sekolah akibat ulah temannya, Renna. Anak itu selalu saja menjahati Suna dan Syuna, padahal mereka berdua nggak salah apa-apa. Menyebalkan! Selalu saja mengganggu! Tetapi meskipun begitu, sekarang Renna pergi ke luar kota, kehidupan sekolah Suna pun menjadi damai, tetapi kakaknya tetap saja tidak ingin kembali kesekolah yang lama. Dia ingin berada di sekolahnya yang sekarang. Dia merasa nyaman disana.
Minggu, 03 Oktober 2010
Between 2 Love (Chapter 9 : Please, Don't forget me)
“Kau siapa?” Tanya Ney ketika dia sadar, wajahnya sedikit pucat
Apa? Siapa? Jangan katakan…
“Kau bicara apa? Ini aku Suna” kata Suna mencoba membuat Ney mengingatnya.
Suna yakin dia salah dengar. Ney nggak mungkin melupakannya. Lagi pula, kalau pun Ney melupakannya, apa yang akan dia lakukan?
“Siapa?” Tanya Ney
“Hei, Chibi, kau tidak mengenalnya? Dia ini temanmu. Suna” kata Halzen
“Suna? Siapa?” Tanya Ney mengerutkan keningnya
“Kakak tau siapa dia?” Tanya Ney lagi
“Apa? Tunggu dulu, kau mengingatku tetapi tidak mengenal Suna? Apa jangan-jangan kau melupakan bocah-bocahmu juga?” Tanya Halzen mencoba meyakinkan
“Sudah berapa kali aku harus memberitaumu H.A.L.Z.E.N…?? Jangan panggil mereka BOCAH!!” pintah Ney
Halzen dan Suna terdiam. Suna merasa dadanya terasa sakit. Sekejap energinya menghilang begitu saja. Suna seakan-akan kehilangan keseimbangan lalu pergi keluar kamar rawat dengan terburu-buru. Suna pergi, dia berlari entah kemana. Tak tau arahnya, yang terpenting adalah dia benar-benar pusing, tak bisa mengeluarkan energinya, tubuhnya seakan-akan tak bernyawa tetapi bisa bergerak. Semua seperti melayang-layang. Kemana dirinya?
Suna pun terduduk dibangku taman rumah sakit. Dia ingat kursi yang didudukinya itu adalah kursi yang waktu itu dia duduki pada saat tertidur dan bermimpi. Suna menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Dia merasa sakit, bahkan sampai bernafas saja sakit. Dia seperti mati rasa, tak tau apa yang dilihatnya, pemandangan begitu gelap dimatanya. Tangan sampai ujung kakinya menggigil lalu tanpa sadar mengeluarkan air matanya dan menangis.
Aku tak percaya Ney melupakanku begitu saja… apa yang sudah ku lakukan padanya? Apa dia membenciku? Apa dia ingin aku tidak ada?
Suna hanya duduk diam. Dia seperti patung, tidak bergerak, tubuhnya sulit bergerak, tidak bisa mengeluarkan suaranya dan mulai takut dengan kenyataan bahwa Ney melupakannya. Kalau Ney memang amnesia, dia bisa memakluminya, tetapi Ney masih ingat Halzen juga sahabat-sahabatnya itu.
Sadarlah dari mimpimu Suna! Ney nggak mungkin melupakanmu! Dia adalah sahabat yang amat sangat berarti bagimu, sama seperti Ney menganggapmu! Mungkin Ney masih agak lelah jadi ingatannya masih agak lupa-lupa atau karena baru sadar dari kecelakaan dan luka parahnya… Tapi… Kenapa… Kenapa hanya aku yang dilupakannya..?
Suna pun mulai menangis. Dia bersandar dibangku taman lalu menatap langit sambil meneteskan air matanya
Aku tak ingin kau melupakanku…
Setetes air mata pun menetes kematanya..
Aku tak ingin kau tak mengenalku…
Setetes demi setetes air matanya terjatuh…
Aku ingin kau mengetahuinya dulu…
Saat Suna menyadari sesuatu. Yang terjatuh ketangannya bukanlah air matanya. Tetapi hujan. Ya hujan rintik-rintik. Apakah awan juga menangis bahkan lebih deras dari tangisan Suna..?
Orang-orang kembali masuk ke rumah sakit. Hanya Suna yang berada disana, duduk diam dibawah pohon dan basah karena kehujanan. Saat Suna sadari bahwa dirinya sudah tak merasakan tetesan air hujan. Suna melirik ke atas dan melihat ada seseorang memayunginya. Suna melirik ke belakang dan dia melihat Getrin sedang berdiri membelakanginya.
“Suna, kenapa disini saat hujan? Ayo masuk ke rumah sakit!” pintah Getrin
Suna tidak menjawab. Mulutnya tidak mau terbuka dan berkata-kata. Getrin yang melihat Suna hanya diam tak bergerakpun terpaksa menggendong Suna masuk ke rumah sakit supaya dia tidak basah kuyup lebih dari itu. Dia bisa masuk angin.
Suna tidak menyadari kalau dirinya digendong Getrin. Suna merasa kalau dirinya terbang disebuah pelukan. Hangat, dan nyaman, sama seperti Ney..
❦
Getrin membawa Suna ke kantin rumah sakit. Dia sepertinya benar-benar syok karena Getrin sudah tau kalau Ney melupakan Suna. Sebenarnya Ney amnesia terhadap Suna karena dia ingin melupakan saat Suna bersamanya pada saat sehari sebelum kecelakaan.
“Aku tau kau masih syok, ya?” Tanya Getrin
Suna hanya diam. Wajahnya murung tanpa ekspresi. Matanya terasa berwarna hitam gelap pekat.
Baiklah, Getrin bersaha untuk tidak membahas Ney,
Yang penting sekarang Suna sudah baik-baik saja dan ku harap Suna bisa melupakan Ney untuk beberapa saat sampai Ney kembali mengingatnya
Getrin mencari topik lain yang disukai Suna. Suna mulai menatap Getrin lalu Getrin mencoba membuat Suna senang. Membahas yang lain selain keadaan Ney membuat Suna kembali. Suna bahkan sampai tak sadar kalau dia dan Getrin sudah mengobrol lebih dari sejam. Tetapi Suna masih saja enjoy. Getrin masih berharap Suna bisa melupakan Ney untuk beberapa saat sampai ingatan Ney kembali seperti semula.
“Suna, mau ku antar pulang?” Tanya Getrin
“Boleh saja, tetapi aku harus kembali ke kamar rawat dulu, aku meninggalkan ponselku disana” balas Suna lalu pergi meninggalkan Getrin
Getrin yang melihat Suna pergi meninggalkannya, langsung mengejar Suna dan mengawasinya kuatir akan ada apa-apa dengannya.
Getrin melihat Suna masuk ke kamar rawat Ney, dilihatnya Suna mengambil ponselnya dan melihat Ney yang sedang beristirahat. Suna lalu mengelus-elus kepala Ney dan berkata untuk cepat-cepat menginatnya. Suna lalu keluar dari kamar rawat, dilihatnya Getrin di depan pintu kamar rawat Ney, membuat Suna bingung dan bertanya pada Getrin
“Sedang apa kau disini Getrin?” Tanya Suna
“Aku mengawasimu, kuatir kau akan syok lagi..” balas Getrin
Suna terdiam murung. Lalu kembali bangkit dan tersenyum pada Getrin dan berkata kalau dia sudah tak apa-apa dan itu karena Getrin yang sudah menghiburnya.
Getrin tersenyum mendengar kata-kata itu dari Suna. Getrin lalu merangkul tangan Suna dan mengantarnya pulang ke rumah…
Apa? Siapa? Jangan katakan…
“Kau bicara apa? Ini aku Suna” kata Suna mencoba membuat Ney mengingatnya.
Suna yakin dia salah dengar. Ney nggak mungkin melupakannya. Lagi pula, kalau pun Ney melupakannya, apa yang akan dia lakukan?
“Siapa?” Tanya Ney
“Hei, Chibi, kau tidak mengenalnya? Dia ini temanmu. Suna” kata Halzen
“Suna? Siapa?” Tanya Ney mengerutkan keningnya
“Kakak tau siapa dia?” Tanya Ney lagi
“Apa? Tunggu dulu, kau mengingatku tetapi tidak mengenal Suna? Apa jangan-jangan kau melupakan bocah-bocahmu juga?” Tanya Halzen mencoba meyakinkan
“Sudah berapa kali aku harus memberitaumu H.A.L.Z.E.N…?? Jangan panggil mereka BOCAH!!” pintah Ney
Halzen dan Suna terdiam. Suna merasa dadanya terasa sakit. Sekejap energinya menghilang begitu saja. Suna seakan-akan kehilangan keseimbangan lalu pergi keluar kamar rawat dengan terburu-buru. Suna pergi, dia berlari entah kemana. Tak tau arahnya, yang terpenting adalah dia benar-benar pusing, tak bisa mengeluarkan energinya, tubuhnya seakan-akan tak bernyawa tetapi bisa bergerak. Semua seperti melayang-layang. Kemana dirinya?
Suna pun terduduk dibangku taman rumah sakit. Dia ingat kursi yang didudukinya itu adalah kursi yang waktu itu dia duduki pada saat tertidur dan bermimpi. Suna menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Dia merasa sakit, bahkan sampai bernafas saja sakit. Dia seperti mati rasa, tak tau apa yang dilihatnya, pemandangan begitu gelap dimatanya. Tangan sampai ujung kakinya menggigil lalu tanpa sadar mengeluarkan air matanya dan menangis.
Aku tak percaya Ney melupakanku begitu saja… apa yang sudah ku lakukan padanya? Apa dia membenciku? Apa dia ingin aku tidak ada?
Suna hanya duduk diam. Dia seperti patung, tidak bergerak, tubuhnya sulit bergerak, tidak bisa mengeluarkan suaranya dan mulai takut dengan kenyataan bahwa Ney melupakannya. Kalau Ney memang amnesia, dia bisa memakluminya, tetapi Ney masih ingat Halzen juga sahabat-sahabatnya itu.
Sadarlah dari mimpimu Suna! Ney nggak mungkin melupakanmu! Dia adalah sahabat yang amat sangat berarti bagimu, sama seperti Ney menganggapmu! Mungkin Ney masih agak lelah jadi ingatannya masih agak lupa-lupa atau karena baru sadar dari kecelakaan dan luka parahnya… Tapi… Kenapa… Kenapa hanya aku yang dilupakannya..?
Suna pun mulai menangis. Dia bersandar dibangku taman lalu menatap langit sambil meneteskan air matanya
Aku tak ingin kau melupakanku…
Setetes air mata pun menetes kematanya..
Aku tak ingin kau tak mengenalku…
Setetes demi setetes air matanya terjatuh…
Aku ingin kau mengetahuinya dulu…
Saat Suna menyadari sesuatu. Yang terjatuh ketangannya bukanlah air matanya. Tetapi hujan. Ya hujan rintik-rintik. Apakah awan juga menangis bahkan lebih deras dari tangisan Suna..?
Orang-orang kembali masuk ke rumah sakit. Hanya Suna yang berada disana, duduk diam dibawah pohon dan basah karena kehujanan. Saat Suna sadari bahwa dirinya sudah tak merasakan tetesan air hujan. Suna melirik ke atas dan melihat ada seseorang memayunginya. Suna melirik ke belakang dan dia melihat Getrin sedang berdiri membelakanginya.
“Suna, kenapa disini saat hujan? Ayo masuk ke rumah sakit!” pintah Getrin
Suna tidak menjawab. Mulutnya tidak mau terbuka dan berkata-kata. Getrin yang melihat Suna hanya diam tak bergerakpun terpaksa menggendong Suna masuk ke rumah sakit supaya dia tidak basah kuyup lebih dari itu. Dia bisa masuk angin.
Suna tidak menyadari kalau dirinya digendong Getrin. Suna merasa kalau dirinya terbang disebuah pelukan. Hangat, dan nyaman, sama seperti Ney..
❦
Getrin membawa Suna ke kantin rumah sakit. Dia sepertinya benar-benar syok karena Getrin sudah tau kalau Ney melupakan Suna. Sebenarnya Ney amnesia terhadap Suna karena dia ingin melupakan saat Suna bersamanya pada saat sehari sebelum kecelakaan.
“Aku tau kau masih syok, ya?” Tanya Getrin
Suna hanya diam. Wajahnya murung tanpa ekspresi. Matanya terasa berwarna hitam gelap pekat.
Baiklah, Getrin bersaha untuk tidak membahas Ney,
Yang penting sekarang Suna sudah baik-baik saja dan ku harap Suna bisa melupakan Ney untuk beberapa saat sampai Ney kembali mengingatnya
Getrin mencari topik lain yang disukai Suna. Suna mulai menatap Getrin lalu Getrin mencoba membuat Suna senang. Membahas yang lain selain keadaan Ney membuat Suna kembali. Suna bahkan sampai tak sadar kalau dia dan Getrin sudah mengobrol lebih dari sejam. Tetapi Suna masih saja enjoy. Getrin masih berharap Suna bisa melupakan Ney untuk beberapa saat sampai ingatan Ney kembali seperti semula.
“Suna, mau ku antar pulang?” Tanya Getrin
“Boleh saja, tetapi aku harus kembali ke kamar rawat dulu, aku meninggalkan ponselku disana” balas Suna lalu pergi meninggalkan Getrin
Getrin yang melihat Suna pergi meninggalkannya, langsung mengejar Suna dan mengawasinya kuatir akan ada apa-apa dengannya.
Getrin melihat Suna masuk ke kamar rawat Ney, dilihatnya Suna mengambil ponselnya dan melihat Ney yang sedang beristirahat. Suna lalu mengelus-elus kepala Ney dan berkata untuk cepat-cepat menginatnya. Suna lalu keluar dari kamar rawat, dilihatnya Getrin di depan pintu kamar rawat Ney, membuat Suna bingung dan bertanya pada Getrin
“Sedang apa kau disini Getrin?” Tanya Suna
“Aku mengawasimu, kuatir kau akan syok lagi..” balas Getrin
Suna terdiam murung. Lalu kembali bangkit dan tersenyum pada Getrin dan berkata kalau dia sudah tak apa-apa dan itu karena Getrin yang sudah menghiburnya.
Getrin tersenyum mendengar kata-kata itu dari Suna. Getrin lalu merangkul tangan Suna dan mengantarnya pulang ke rumah…
Langganan:
Komentar (Atom)
