Hari ini Ney sudah boleh keluar rumah sakit. Keadaannya sudah membaik dan dia bisa bersekolah lagi. Meski pun begitu, Ney masih saja amnesia akan Suna. Ditanya berkali-kali dia pasti tidak tau. Dokter bilang Ney amnesia akan hal yang memang ingin dilupakannya, itu berarti Ney ingin melupakan Suna? Tapi Halzen tetap saja mengingatkan Ney akan Suna, meski Ney berkali-kali menyuruh kakaknya untuk tidak membahas Suna tetapi Halzen tetap saja berseri keras.
“Kakak, berapa kali harus aku beritau kalau aku nggak kenal dia?” tanya Ney sudah mulai sebal dengan Halzen
“Entahlah, tapi aku nggak yakin kau lupa” balas Halzen yang menatap wajah Ney dengan ekspresi sebal
Ney pun pergi berlari meninggalkan Halzen tanpa bertanya atau pun berkata apa-apa lagi, dia sudah bosan dengan pertanyaan kakaknya itu dan berharap dia tidak akan mengatakan apa-apa lagi tentang Suna.
Halzen merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya, dia menelpon Suna dan memberitau kalau Ney sudah bisa bersekolah lagi, tetapi Suna tidak memberi respon dari sana, dia tau meski pun Ney masuk sekolah dirinya tidak ada dalam pikiran Ney. Kenapa disaat Ney menyukainya dia malah cuek? Sekarang malah keadaan berbalik. Apa tidak ada cara supaya ingatan Ney kembali padanya? Halzen menutup teleponnya lalu pergi mengejar Ney. Dia tau kalau Ney pergi menemui pasukannya yang dianggapnya bocah-bocah. Halzen melihat Ney pergi memasuki rental game, seperti yang sudah dia duga, pasti janjian ketemu di rental game.
Menyebalkan, baru sehat langsung main game! Kalau luka lagi nggak tanggung deh! Kata Halzen sebal.
Halzen pergi meninggalkan Ney, membiarkannya melakukan apapun sesukanya, tak peduli apa yang akan terjadi padanya nanti itu bukan lagi urusannya. Yang terpenting Ney sudah baikkan dan sekarang malah main game bukannya istirahat. Anak yang petakilan yang menyebalkan!
“Kalau sampai ambulance mengangkutmu lagi, aku nggak mau mempedulikanmu lagi”
❦
Suna mendengar ponselnya berbunyi. Telepon dari siapa? Nomornya tidak ada di kontak list-nya. Suna tak mempedulikannya dan tetap mengangkatnya. Dia mendengar suara seorang cowok yang tak asing baginya.
“Halo?”
“Ya? Ini siapa ya?”
“Ini aku, Halzen”
Suna terdiam sejenak sambil berpikir. Tunggu dulu, bagaimana Halzen bisa tau nomor telponnya padahal dia tidak pernah memberitaunya. Suna juga nggak pernah memberitaukan nomornya ke Ney, bagaimana bisa?
“Darimana kau tau nomorku?” tanya Suna yang mengerutkan kening
“Aku dapat dari Getrin, katanya dia punya nomormu, jadi aku minta. Maaf mengagetkanmu”
“Tak apa. Ada apa? Tumben menelpon”
“Aku igin memberitaukanmu, kalau Ney sudah bisa keluar dari Rumah Sakit dan boleh bersekolah lagi” kata Halzen, sepertinya dia terdengar senang, tetapi suaranya mulai jadi surut
“Tapi sayangnya dia amnesia akan dirimu” sambungnya, wajah Halzen mulai buram
Suna terdiam murung. Dadanya mulai sakit.
Sudah diduganya kalau Ney bermaksud untuk melupakannya, entah apa yang dilakukannya tetapi pasti sudah membuat Ney menderita sampai-sampai ingin melupakannya.
“Halo? Suna?” tanya Halzen karena Suna tidak merespon apa-apa. Sebenarnya Halzen tau kalau Suna pasti serak mendengarnya.
“Suna? Kau baik-baik saja? Kalau kau syok, bagaimana kalau kita ketemuan saja? Mungkin aku bisa sedikit menghiburmu”
Tidak…
Suna tidak bisa bergerak, dia ingin membalas perkataan Halzen tetapi mulutnya tak mau terbuka untuk berbicara. Dadanya sakit, jantungnya bagaikan berhenti berdetak. Sulit untuk bernafas karena sakit. Sakit sekali jika seseorang yang dicintai melupakan seseorang yang mencintai..
Halzen terdiam mendengar Suna tidak merespon. Dia lalu menutup teleponnya dan membiarkan Suna untuk menenangkan diri sejenak. Jika tau akan seperti ini seharusnya Halzen tidak memberitaukannya, apa lagi amnesianya Ney terhadap Suna. Halzen menyandarkan kepalanya di pohon dibelakangnya lalu menatap langit dan dedaunan yang gugur.
“Suna, maafkan aku..” kata Halzen yang menatap langit dan dedaunan
“Apa seharusnya aku tak perlu memberitaukanmu?”
Sakit…
“Maaf..”
Sakit sekali…
“Aku nggak bermaksud…”
Jika seseorang yang dicintai melupakan orang yang mencintai. Bagaimana perasaan orang yang mencintai itu? Pasti akan terluka, menangis, dan terasa amat sangat sakit… Jika dilupakan dan melupakan, akan terasa sakit…
Suna masih terdiam tidak berkata. Dia tidak menyadari kalau air matanya sudah menetes jatuh ke tangannya.
Jangan.. Jangan menangis… Untuk sekali ini saja, jangan menangis… Aku tau kau kuat… Setidaknya, sekali saja untuk masalah ini..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Suna Chan coba dark dikit
BalasHapuspasti aku nangis neh....
:'(
wah!? =="
BalasHapushahaha, Shirasaka terlalu menghayati, mirip temen saya XD
aku.... aku gak bermaksud... melupakanmu.. hanya saja...
BalasHapuskepalaku sakit kalau mengingatnya..
-ignore-
gooooood !!! ada beberapa miss typo yaa... =w=
Good!
BalasHapus@papa : Oh oh oh~
BalasHapusapa itu benar? Kemana kau melakukannya? Apa aku merupakan menyakit bagimu? -plak- XDD
@Khiiki : Sengkyu~ XD