Pagi ini Suna kembali bersekolah. Itu karena Getrin yang memberitau kalau sebenarnya Ney itu hanya pura-pura amnesia. Entah benar atau tidak, Suna ingin memastikannya sekarang, makanya dia masuk sekolah. Sesampainya dia di kelas, Suna langsung duduk dibangkunya, Ney belum datang. Apa jangan-jangan tidak masuk ya?
Bel masuk pun berbunyi, Ney masih belum datang. Apa memang tidak masuk? Tidak. Pada saat guru mengabsen siswa, tepat pada saat itu Ney datang. Dia melihat Suna duduk dibangkunya, mengetahui itu Ney merasa harapannya didengar Tuhan kemarin. Syukurlah..
Tanpa basa basi, Ney langsung duduk dibangkunya. Wali kelas mereka tidak terlalu peduli jika ada yang terlambat, aneh. Tetapi sebenarnya orangnya agak galak..
Suna melirik ke arah Ney, Ney sedang melulis sesuatu lalu melemparkannya pada Suna secara diam-diam. Suna pun membaca isinya..
Hi Suna! Kenapa kemarin nggak masuk? Aku kangen lho! Kemarin aku nggak bisa tidur dan terus-terusan berharap kau akan masuk. Kemarin juga aku sempat cemburu ketika mendengar kalau Getrin akan mengajakmu jalan-jalan. Oya, maaf ya aku pura-pura amnesia. Sepertinya kau sudah tau ketika jalan-jalan dengan Getrin. Maaf ya… tetapi sebenarnya bukan begitu! Aku Cuma ingin mengetes, apakah aku sanggup melupakanmu? Tidak, aku sudah terlanjur menyukaimu, jadi sulit untukku melupakanmu. Aku ingin terus kau berada dalam pikiranku. Meskipun aku bisa gila hanya karenamu. Jadi kuharap kau tak marah padaku. Oya, tambahan lagi! Nanti jam istirahat tunggu aku ditaman sekolah. Ada yang ingin ku katakan padamu. Thanks!
Suna tersenyum kecil lalu melirik ke arah Ney. Ney tau dirinya diperhatikan Suna, tetapi dia berusaha fokus ke papan tulis memperhatikan guru menerangkan, mekipun sebenarnya dia ingin melirik dan menatap wajah Suna. Getrin yang memperhatikan Suna merasa kalau Suna dan Ney sudah mulai berbaikan, dan ini bisa jadi langkah buruk baginya. Tetapi tak masalah, asalkan Suna bisa tersenyum, itu sudah cukup untuknya.
❦
“Apa yang ingin kau bicarakan padaku?” tanya Suna yang menatap wajah Ney
Ney diam sejenak, menunggu angin berhembus dan dia pun mulai membuka mulut.
“Sewaktu aku tertidur di rumah sakit, aku bermimpi bertemu seorang gadis yang mirip denganmu. Gadis itu ingin aku tersadar dari mimpiku. Dia terus-terusan meneriakkan namaku dan menangis sambil berharap aku akan membuka mataku. Sewaktu itu, aku nggak tega melihatnya menangis, aku nggak ingin dirinya menangis. Karena itu aku ingin minta maaf padamu. Jika memang gadis itu adalah kau, maafkan aku. Karena sudah membuatmu menangis. Maaf” kata Ney. Dia menundukkan kepalanya dan ekspresi wajahnya murung sekali.
Suna tersenyum mendengar hal itu dari Ney. Dia lalu menarik nafas panjang. Dia ingin menyatakan perasaannya sekarang. Tetapi dia gugup sekali, sulit untuk berkata. Tidak! Dia harus tetap tegar, mungkin inilah satu-satunya kesempatan! Dia harus memanfaatkannya dengan baik! Harus!
“Ney, ada yang ingin aku katakan…” kata Suna gugup
Ney tersenyum lalu mempersilahkan Suna berbicara. Dia akan menjadi pendengar yang baik untuk Suna.
“Aku juga… Sewaktu kau dirumah sakit Berharap kau akan membuka matamu… Aku Melihat wajahmu yang tertidur jadi… berdebar-debar… entah darimana aku ingin melihat kau membuka matamu dan memanggil namaku… pada saat itu.. aku tau kalau… kalau aku…”
“Jendral!” jerit seorang gadis yang memanggil Ney
Ney dan Suna melirik kearah suara itu. Terlihat seorang gadis manis berambut panjang berlari kearah Ney. Siapa dia?
“BrigJend, ada apa?” tanya Ney serius
“Tadi ada masalah saat rapat… Makanya aku mencarimu” balas gadis itu dengan nafas terengah-engah
“Baiklah, aku mengerti. Aku akan segera membereskannya sepulang sekolah nanti” balas Ney dengan tatapan serius dan mata yang begitu jernih.
Gadis itu tersenyum kearah Ney. Ney lalu mengusap-usap gadis itu sambil tersenyum dan berkata terima kasih dengan nada yang menyenangkan. Suna terdiam murung, dadanya sakit… pengakuannya tidak dianggap Ney dan Ney malah pergi dengan gadis itu meninggalkannya tanpa pamit. Kejamnya…
Suna memang tidak mengenali siapa gadis itu. Tetapi tetap saja, gadis itu menyebalkan…
❦
“Nah, sudah selesai” kata Ney yang merapihkan tumpukkan kertas dokumen
“Sudah selesai? Cepat sekali” tanya Ray nggak percaya. Dia melirik Ney dengan pandangan tak meyakinkan
“Kau bisa cek sendiri” balas Ney yang beranjak dari tempat duduk lalu pergi meninggalkan mereka
Setelah Ney keluar dari ruangan, Ray langsung memeriksa kerjaan Ney. Ternyata memang sudah selesai. Cepat sekali dia mengerjakannya. Ray melirik kearah Erza lalu bertanya mengenai keadaan Ney. Akhir-akhir ini Ney sedikit aneh, dia mengerjakan pekerjaannya dengan cepat sekali ditambah lagi hari ini dia nggak heboh seperti biasa. Ada apa?
“Kalau kau tanya yang begituan, jangan nanya aku! Emangnya aku ngerti yang beginian?” tanya balik Erza. Sepertinya Erza juga merasakan hal yang sama.
“Kalau soal Jendral yang amnesia, sebenarnya dia tidak amnesia” kata Rin yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan Ray dan Erza
Ray dan Erza sempat terdiam beberapa saat lalu mulai bingung. Amnesia yang pura-pura?
“Apa maksudmu BrigJend?” tanya Erza
“Tadi aku melihat Jendral lagi bersama Suna, sepertinya membicarakan sesuatu… Tapi entahlah, Jendral seakan-akan ingat jelas dengan Suna” balas Rin memberitau
Ray dan Erza saling bertatapan mendengar perkataan Rin. Mereka lalu hanya diam dan kembali mengerjakan tugas mereka masing-masing.
❦
Ney pulang kerumah, sesampainya dirumah dia melihat Halzen sedang asik-asiknya menonton film dewasa bareng teman-temannya. Ney hanya cuek lalu masuk kekamarnya tanpa memberi salam terlebih dahulu.
Ney masuk kekamarnya dan langsung menggeletakkan dirinya diatas kasur. Dia menyetel MP3 dari ponselnya lalu memejamkan matanya. Dia bermimpi lagi! Gadis yang waktu itu ditemuinya menangis lagi. Kenapa? Apa yang dia lakukan?
“Hei, kau kenapa?” tanya Ney yang mendekati gadis itu
Gadis itu malah menjauh dari Ney. Wajahnya terlihat begitu murung seperti seseorang yang kesepian. Gadis itu pergi berlari menjauh dari Ney. Ney mencoba mengejar tetapi gadis itu tidak terkejar. Ney tetap mencari gadis itu meski dia tidak menemukannya. Pandangannya jadi kacau, seluruhnya berubah jadi putih. Ada apa ini..?
“Hei! Kau diamana?” tanya Ney
Tidak ada reson sama sekali. Aneh… Kemana gadis itu? Apa dia tidak bisa berbicara?
Ney pun tersadar dari mimpinya begitu saja. Aneh, dia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada hal yang membuatnya bisa terbangun dengan mudahnya. Tetapi kenapa dia bisa tersadar begitu saja?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

ini N. Andika?
BalasHapus