Sabtu, 28 Agustus 2010

Between 2 Love (Chapter 3 : The Better Hug)

Getrin meninggal…? BOHONG!!!

“Kau… Bohong,’kan..?” Tanya Suna

“Emang tuh” balas Neyza ringan tanpa salah

Suna pun langsung melemparkan sepatunya ke kepala Neyza dan tepat mengenai sasaran. Neyza pun kesakitan lalu mengomeli Suna kalau dia hanya bercanda saja. Tetapi tetap saja bercandanya kelewatan! Suna hampir terbawa suasana dan nyaris syok kalau hal itu benar-benar kejadian! Neyza hanya diam. Suna lalu berkata pada Neyza kalau sekali-kali dia berbohong kayak begitu, maka Neyza akan mati dalam sekali pukulan. Neyza hanya tertawa dengan perkataan Suna dan itu gak mungkin dialaminya. Seumur hidup Neyza belum pernah melihat anak seperti Suna yang dianggapnya “Lucu”. Mungkin saja Neyza mulai menyukainya…

Pada saat jam istirahat. Suna dan Getrin makan siang di bawah pohon taman sekolah. Suna bertanya pada Getrin karena datang telat ke sekolah.

“Kenapa kau datang telat Getrin? Nggak biasa…” Tanya Suna

“Iya, tadi aku bangun kesiangan gara-gara nggak bisa tidur mikirin rapat OSIS” balas Getrin

Suna hanya diam. Dia tak membalas apa yang dikatakan Getrin. Tak lama kemudian, ada apel jatuh dari atas pohon dan ternyata disana ada Neyza! Ngapain dia disana…??

“Ka… kamu ngapain diatas pohon…!?” Tanya Suna kaget

“Ngapain? Ngintip kalian” balas Ney tanpa merasa salah

Suna terdiam nggak mengerti maksudnya. Untuk apa? Ngapain diatas pohon untuk mengintip? Atau jangan-jangan…!?

“Turun kau!!! Kalau nggak, kulempar pake sepatu nih!!” pintah Suna

Neyza menuruti apa kata Suna. Dia turun dari atas pohon dan memandang Suna serasa tanpa salah. Lalu berjalan mendekati Suna. Suna mencoba menjauh, tetapi jalan sudah buntu. Dibelakang Suna hanya ada pohon. Getrin mencoba menghentikannya tetapi pada saat ingin menghentikannya Getrin di panggil kepala sekolah untuk rapat. Lantas Getrin menghentikan Neyza lalu pergi rapat.

Neyza dan Suna hanya duduk dibawah pohon. Mereka nggak bicara sama sekali. Yang terdengar hanyalah suara angin juga dedaunan yang berdesis. Tak lama kemudian, Suna bertanya pada Neyza apa dia sudah makan siang. Neyza mengangguk lalu tak lama kemudian suara perutnya terdengar. Suna tertawa lalu memberikan Neyza sebagian bekalnya.

“Nggak usah. Itu bekalmu jadi kamu yang makan” kata Ney

“Nggak apa. Aku lagi nggak selera” balas Suna

“Nggak selera? Nanti kamu yang kurus jadi tambah kurus, lho!” kata Ney menghina Suna

Suna hanya diam. Neyza lalu mengambil bekal Suna lalu makan bekal Suna menggunakan sendok yang barusan Suna pakai. Wajah Suna pun memerah. Dia lalu mengomeli Neyza untuk pakai sendoknya sendiri tetapi Neyza tidak membawa sendok. Neyza lalu berkata kalau memang Suna iklas memberikan bekalnya, tak peduli mau dimakan pakai apa yang penting dimakan. Suna pun diam. Tak lama Neyza mengagetkan Suna lalu menyuapi Suna bekalnya sendiri. Wajah Suna semakin memerah lalu ngamuk-ngamuk ke Neyza sampai2 dia jatuh dipeluk Neyza! Suna mencoba lepas dari pelukan Neyza tetapi tidak bisa. Neyza semakin lama semakin erat memeluk Suna. Suna hanya diam dan mengikuti suasana, berhenti untuk mencoba lepas dari peukan. Tak lama, bel masuk kelas pun berbunyi. Neyza melepas pelukannya lalu masuk ke kelas sambil merangkul tangan Suna. Suna terbawa suasana. Dia nggak bisa melepas tangannya dan jantungnya mulai berdebar-debar. Ada apa dengannya..?

Sesampainya mereka dikelas, Neyza melepas genggaman tangannya lalu duduk dibangkunya. Suna hanya diam dengan perasaannya yang mulai kacau. Yang disukainya adalah Getrin tetapi kenapa jantungnya berdebar ke Neyza? Perasaan yang aneh…

Selama jam pelajaran Suna hanya bengong tak memperhatikan guru. Itu terlihat dari dirinya yang daritadi tidak memandang ke papan tulis. Getrin heran melihat Suna dan merasa kalau Suna memiliki masalah yang sedang dihadapinya.

Pada saat jam pelajaran olahraga, ketika Suna hendak pergi menuju lapangan, dia bertemu dengan Neyza. Suna hanya cuek padanya lalu Neyza menarik tangan Suna sampai Suna kehilangan keseimbangan dan jatuh dipeluk Neyza lagi…!!

“Kau!! Sudah 2 kali memelukku apa masih belum puas…!?” Tanya Suna sebal

Neyza hanya diam. Dia lalu betanya pada Suna

“Apa kau masih belum mengerti?” Tanya Neyza

“Ha? Apa?” Tanya Suna yang nggak mengerti

“Hahaha, kau memang gadis bodoh, ya! biasanya cewek yang ngerti beginian” balas Neyza tak memberi jawaban atas pertanyaan Suna

“Kau tau kenapa aku memelukmu?” Tanya Suna

“Tidak” balas Suna singkat

Neyza menghela nafas sejenak, lalu memberi jawaban pertanyaannya.

“Aku memelukmu, karna aku suka padamu”

Jumat, 27 Agustus 2010

Between 2 Love (Chapter 2 : somethings I wanted in Revealed)

Cowok yang waktu itu Suna temui sekarang sekelas dengannya, dan harus duduk disampingnya…!!!?

“Namaku Neyza Floudrence, salam kenal!” sapa Neyza ke teman-temannya

Neyza lalu duduk di sebelah bangku Suna. Dia lalu melemparkan sebuah kertas ke bangku Suna. Suna membaca isi kertas itu dan ternyata Neyza ingin agar Suna menemainya jalan-jalan berkeliling sekolah pada saat jam istirahat. Suna pun menyetujuinya karna mungkin dia bisa lebih akrab dengan Neyza.

Pada saat jam istirahat, sesuai janji, Suna menemani Neyza keliling sekolah. Pada saat berkeliling, Neyza sempat memberitaukannya kalau dia nggak salah dengan apa yang dia katakana kemarin. Suna terdiam. Itu berarti Neyza memang cowok yang kemarin ditemuinya. Suna pun mengucapkan terima kasih karna kemarin sudah menemaninya meski gara-gara hal itu, dirinya lupa akan janjinya dengan Getrin.

“Oya Suna, kau panggil aku pakai sebutan Ney aja, ok?” kata Neyza memberitau

“Oke oke” balas Suna sambil tersenyum.

Tak lama, ada beberapa siswi teman sekelas Suna mendekati Neyza supaya lebih akrab dengannya. Suna pun meninggalkan Neyza lalu pergi ke kelasnya. Di kelas, Getrin datang membawa buku novel kesukaannya. Suna pun kerap ingin meminjam novel milik Getrin sebagai inspirasinya dalam membuat novel. Getrin meminjamkannya ke Suna, Suna pun langsung membacanya dan mencari bab cerita yang memang dibutuhkannya di halaman ‘daftar isi’. Pada saat sedang mencari, ada bab yang judulnya ‘Cinta tak bersemi’. Suna pun langsung membacanya dan menyangka kalau ini bisa dijadikan sebagai bahan di novelnya. Getrin merasa lucu melihat Suna. Dia lalu mengatakan kalau Suna itu lucu bagaikan boneka. Suna yang mendengarnya, pipinya langsung merah. Apa lagi Getrin mengatakannya di kelas dimana ada banyak teman-teman ceweknya. Tetapi Getrin tidak mempedulikan hal itu. Dia terus-terusan mencari perhatian Suna dari novelnya sampai akhirnya mereka membicarakan hal yang aneh-aneh.

Pada saat jam pulang sekolah (mungkin pulang sekolah akan menjadi akhir setiap chapter…. Soalnya Suna masih belajar bikin novel.. TTwTT), Suna melihat getrin seraya menunggunya di depan gerbang sekolah.

“Apa yang kau lakukan disitu Getrin? Nggak pulang?” Tanya Suna

“Pulang? Aku menunggumu lho Suna!” balas Getrin

“Ha? Untuk apa?” Tanya lagi Suna

Getrin lalu menyeret tangan Suna. Dia membawa Suna ke suatu bukit yang dimana ada banyak pohon. Pada saat mereka sampai di tempat tujuan. Suna melihat senja berwarna merah ke kuning-kuningan yang indah. Suna benar-benar kagum dengan apa yang dilihatnya.

“Hwaa! Keren!! Banget!!” kata Suna kagum

“Bagus bukan? Aku ingin memperlihatkan ini padamu” balas Getrin

Suna terdiam sejenak. Entah kenapa dia serasa pernah mengalami situasi seperti ini. Kalau diingat-ingat, melihat senja seperti ini baru saja dialaminya kemarin sore bersama Neyza. Lalu sekarang terulang lagi oleh Getrin. Suna serasa sedang diperebutkan, tetapi jika memang benar, tak perlu hal seperti itu terjadi. Getrin kemudian memetik setangkai bunga lalu menyelipkannya di telinga Suna (kalimatnya bener gak sih…? Maaf B.Indo Suna 5… TTwTT*mempermalukkan nama Indonesia*).

“Hehehe, Suna manis, ya!” kata Getrin sambil tersenyum

Pipi Suna serasa merah. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi meski sebenarnya di dalam hatinya, dia ingin mencoba mengungkapkan perasaannya. Getrin lalu mengantar Suna pulang. Sesampainya di depan rumah, Suna bukannya masuk ke rumah tetapi malah menyuruh Getrin untuk jangan pulang. Dia masih ingin melakukan banyak hal dengannya.

“Kenapa Suna?” Tanya Getrin

Suna hanya diam tanpa kata. Dia lalu memeluk Getrin dan tak ingin lepas darinya. Getrin yang kebingungan pun hanya mengikuti suasana. Dia pun memeluk Suna erat-erat seakan berfikir kalau Suna tak ingin ditinggalnya.

“Suna, tak apa.. Besok kita,’kan masih bisa ketemu! Besok juga, kita melihat senja lagi,ya!” kata Getrin mencoba membuat Suna senang.

Suna hanya diam. Dia lalu melepas pelukannya dan masuk ke rumah sambil tersenyum ke Getrin.

Esoknya, Suna melihat Neyza ada didepan rumahnya pada saat ingin sekolah. Suna bingung dan nggak mengerti apa yang dia lakukan di depan rumahnya.

“Sedang apa kau?” Tanya Suna

“Menunggumu. Kau emang gak mau sekolah?” Tanya balik Neyza

“Mau lah! Kalau sekolah gratis, bolos juga gak masalah, gak kluar duit gini…” balas Suna agak ketus

Neyza hanya tertawa kecil menanggapi kata-kata Suna. Dia lalu mulai bertanya pada Suna.

“Gimana jalan-jalan kemarin sama Getrin?” Tanya Neyza

Suna terdiam. Darimana Neyza bisa tau kalau dia jalan-jalan sama Getrin semalam.

“Da…. Da… Darimana kau tauuuuuuu!!!?” Tanya Suna nggak percaya

“Darimana? KEBETULAN aku nggak sengaja lihat” balas Neyza ringan

“Trus gimana?” sambung Neyza

“Ha? Apaan?” Tanya balik Suna nggak ngerti

“Kamu suka sama si Getrin,’kan? Kenapa gak tembak dia aja?” Tanya Neyza

Pipi Suna pun merah. Dia memang ingin melakukannya tetapi nggak berani karena takut ditolak. Tapi kalau diam saja, kemungkinan Getrin menunggu Suna untuk menyatakan perasaannya. Tapi kalau apa yang dipikirkannya itu salah, maka itu hanya akan membuat Suna sakit hati. Neyza yang melihat wajah Suna langsung tau kalau Suna memang menyukai Getrin, membuatnya sedikit murung.

“Suna, kalau kau mau menyatakan perasaanmu pun sudah terlambat” kata Neyza memberitau

“Ha? Kenapa?” Tanya Suna

“Tadi jam 5pagi, Getrin meninggal dunia”

Between 2 Love (Chapter 1 : Something in the forget)

Pagi ini begitu cerah, langit-langit terlihat biru dan burung-burung berkicau seperti biasanya. Suasana hari ini bagaikan membawa harapan juga keinginan bagi orang-orang. Suara air yang jernih, dedaunan berdesis ditiup angin yang menyegarkan. Andaikan hari ini tak tergantikan…

Tetapi dibalik semua itu, ada hal yang harus dilupakan, dan itu terjadi hari ini…

Suna pergi keluar rumahnya dan berangkat sekolah. Di depan rumahnya terlihat Getrin menunggunya untuk pergi ke sekolah bareng. Perjalanan menuju sekolah seperti biasa, Suna dan Getrin selalu mengobrol mengenai Online di Facebook. Sempat semalam Getrin menjadi peringkat pertama di Top of My Friends di Facebook Suna. Selain itu, Getrin juga mengajari Suna cara mengedit di Photoshop, Suna serasa bahagia memiliki sahabat seperti Getrin, bahkan Suna mulai merasa “Suka” pad Getrin

“Getrin, nanti ajari aku lagi cara pakai Photoshop, ya!” kata Suna

“Sip!” Balas Getrin sambil mengedipkan matanya.

Suna dan Getrin masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing. Suna dan Getrin bangkunya bersebelahan di kanan Suna sedangkan bangku dikiri Suna kosong dan bisa diisi untuk murid baru.

“Getrin, pinjam PR dong!” pintah Suna

“Ha? PR? Kamu belum kerjain lagi?” Tanya Getrin

“Belum tuh, hehehe” balas Suna ringan

Getrin tidak memberikan PRnya pada Suna dan menyuruh Suna mengerjakannya sendiri. Meski Suna berseri keras meminta, Getrin tetap tidak memberikannya sehingga Suna terpaksa mengerjakannya sendiri dibantu Getrin jika ada yang tidak dimengertinya.

Pada saat jam pelajaran matematika, guru membagikan nilai ulangan harian pada muridnya. Hampir sebagian mendapat nilai merah karena guru yang mengajarnya terlalu keras. Cuma Getrin yang mendapat nilai tinggi, 95, sedangkan Suna 45.

“Horeeeee!! Nilainya 45!!” Kata Suna kegirangan

“Kok dapet 45 malah seneng sih…?” Tanya Getrin gak ngerti

“Iya! Saking senengnya pingin nangis 3 keliling (asal ngomong)” balas Suna kecewa

Getrin tertawa kecil melihat Suna yang awalnya senang kegirangan, langsung berubah menjadi mendung. Getrin berjanji akan mengajari Suna supaya bisa dapat nilai bagus pada saat remedial. Suna awalnya menolak dan memilih lebih baik pasrahkan ke yang di atas (bukan yang Maha Kuasa lho!), tetapi Getrin memberitau kalau selalu pasrah nanti gak bisa naik kelas, membuat Suna terpaksa ikut belajar bersama Getrin di perpustakaan kota sepulang sekolah. Suna mengangguk mengerti. Tetapi…

Pada saat pulang sekolah, Suna pergi menuju perpustakaan kota. Pada saat ditengah jalan, Suna bertemu dengan laki-laki yang langsung menyeret tangannya. Suna yang awalnya ingin lepas dari genggaman tangannya, malah terbawa suasana untuk ikut dengannya. Cowok itu membawa Suna ke taman hiburan, disana mereka naik kincir angin dan melihat pemandangan kota dihari senja.

“Huwaaa!! Keren!” kata Suna kagum

“Bagus bukan? Aku ingin menunjukkan ini padamu” kata cowok itu

“Anu, sebenarnya kamu siapa? Kenapa tiba-tiba menyeretku begitu saja?” Tanya Suna

Cowok itu hanya diam. Dia lalu memberitau kalau besok Suna akan tau siapa dia. Pada saat pulang ke rumah, Suna baru teringat akan janjinya dengan Getrin untuk belajar di perpustakaan kota. Suna merasa bersalah karena meninggalkan Getrin sendirian. Suna yang kebingungan, tak tau harus bagaimana sehingga dia nggak bersemangat untuk bersekolah besok.

Esoknya, Suna yang biasa bersama Getrin pergi ke sekolah, kali ini harus pergi sekolah sendirian. Pada saat Suna sampai disekolah, dilihatnya Getrin duduk tenang di mejanya. Suna yang ingin minta maaf pada Getrin, merasa benar-benar bersalah padanya.

“Getrin, anu… Aku minta maaf soal kemarin, karna melanggar janji…” Kata Suna minta maaf

Getrin hanya diam menatapi Suna. Suna merasa kalau dirinya pasti tidak dimaafkan Getrin akan sikapnya kemarin.

“Kamu pergi kemana saja?” Tanya Getrin

“Eh, kemarin aku melihat senja, sampai lupa belajar.. sampai rumah saja jam 7 malam” balas Suna

Getrin terdiam lalu tersenyum melihat wajah Suna. Getrin pun memaafkan Suna membuat Suna merasa tenang sekarang. Bel sekolah pun berbunyi. Suna, Getrin dan yang lainnya duduk di bangku masing-masing dan siap untuk belajar. Pada saat belajar, guru memperkenalkan murid baru yang akan mengisi kursi sebelah kiri Suna. Pada saat murid baru itu masuk, Suna seakan pernah melihat anak itu. Saat diingat-ingat, murid baru itu,’kan cowok yang ditemuinya kemarin sore!!