Hari ini Ney benar-benar sudah masuk sekolah, tetapi Suna justru tidak masuk sekolah. Suna takut bertemu dengan Ney, takut hatinya akan tersakiti jika melihat wajahnya, takut jika Ney tidak mengenalnya dan detak jantungnya akan berhenti begitu saja.
Setelah jam istirahat. Getrin menemui Ney untuk bicara dengannya, Ney acuh tak acuh menerimanya begitu saja. Mereka pergi ke tempat yang sepi yang hanya ada mereka berdua disana, Getrin mengajak Ney ke gedung olahraga. Ney baru tau kalau disekolahnya ada gedung olahraga.
“Ada apa mengajakku kemari? Aku nggak bisa main basket” kata Ney cuek
Getrin menatap Ney dengan pandangan yang begitu sinis. Ney sama sekali nggak mengerti Getrin. Ada apa sih? Entah kenapa Getrin jadi aneh. Apakah perasingan mereka sudah selesai? Ataukah ada masalah lain?
“Aku dengar kau amnesia akan Suna, ya?” tanya Getrin serius
“Lagi-lagi, Suna. Siapa sih? Gak jelas banget!” balas Ney ketus. Dia sepertinya sudah bosan dengan pertanyaan tentang Suna
“Berhentilah berpura-pura bodoh! Aku tau kau pura-pura amnesia,’kan?” kata Getrin menebak.
Ney terdiam dan berpikir senejak. Dia nggak menanggapi pertanyaan Getrin dan hanya ringan membalas..
“Sepertinya iya” katanya memalingkan mata kearah lain
Getrin benar-benar bingung tak mengerti. ‘sepertinya’ tidak masuk akal sekali, atau jangan-jangan Ney ingin melupakan Suna untuk sementara waktu atau apa?
“Kau ingin melupakan Suna, ya?” tanya Getrin, dia merasa bingung dengan pertanyaan Ney
“Iya, setidaknya sampai dia melupakanku” balasnya
Getrin tidak mengerti apa maksudnya. Apa itu artinya Ney menghindar?
“Kau mau kabur?” tanya Getrin
Ney menggeleng. Lalu dia pergi meninggalkan Getrin. Getrin mencoba mencegah tetapi yang dijawab Ney hanyalah membiarkannya untuk sementara. Getrin menurut, meskipun sebenarnya dia tidak yakin dengan Ney. Satu harapan saja dari Getrin, dia ingin menang melawan Suna dengan cara yang imbang.
❦
Suna bosan dirumah. Dia ingin pergi tetapi tak tau ingin kemana. Hari ini menyebalkan sekali, Ney tidak ingat padanya membuatnya malas bersekolah. Kalau saja Ney ingat padanya, Suna pasti tidak akan kebosanan seperti ini.
Suna melihat ponselnya berdering. Telepon dari Getrin. Ada apa? Bukannya seharusnya dia bersekolah?
“Halo?” tanya Getrin
“Halo. Getrin ada apa? Kenapa menelpon? Bukannya kau harusnya bersekolah?” tanya Suna bingung
“Iya, aku lagi disekolah, bagaimana kalau sepulang sekolah nanti kita jalan-jalan? Aku yang traktir” balasnya.
Sepertinya Getrin sedang senang sekali hari ini.
Suna tidak merespon. Getrin yang menunggu jawaban Suna terpaksa menutup teleponnya karena bel masuk kelas sudah berbunyi. Getrin lalu menunggu jawaban Suna, dia menyuruh Suna mengirim SMS padanya jika dia ingin jalan-jalan atau tidak lalu langsung menutup teleponnya. Suna sebenarnya ingin, tetapi dirinya sedang malas hari ini, jadi terpaksa dia menolak. Tetapi Suna nggak tega dengan Getrin yang sudah mengajaknya dengan hati yang senang itu, dia nggak ingin senyum Getrin berubah menjadi mendung hanya karena dia menolak tawaran Getrin, jadi dia menerimanya.
❦
Suna sampai di kafe dekat sekolah. Kafe itu benar-benar ramai, banyak sekali orang yang berdatangan terutama murid sekolahnya. Suna melirik ke arah jendela, dia melihat Getrin sudah ada di depan pintu kafe dan bersiap untuk masuk. Suna melihat Getrin datang sendirian, tidak membawa siapa-siapa terutama Ney, Suna lega mengetahuinya.
“Maaf membuatmu lama menunggu” kata Getrin, lalu duduk di kursi yang sudah disediakan.
“Tak apa, aku juga baru sampai” balasnya sambil tersenyum ke arah Getrin, meski senyumnya dibuat-buat Suna tetap memaksakan diri untuk tersenyum. Jangan sampai senyumannya surut begitu saja.
Pelayan lalu datang menanyakan pesanan, Suna dan Getrin pun memesan apa yang mereka mau lalu pelayan itu mengangguk dan pergi. Suna menatap Getrin sambil tersenyum, dia merasa kalau Getrin sedikit berubah, meski tak tau ada perubahan dimana, tetapi sepertinya Getrin berubah.
“Ada apa melihatku sambil senyum-senyum?” tanya Getrin, dia tau sejak tadi diperhatikan
“Ah, nggak. Sepertinya kau sedikit berubah” balas Suna dan masih tetap memandang Getrin
Getrin tersenyum melihat Suna mengetahuinya. Ternyata Suna peka untuk hal seperti ini. Suna melihat Getrin tersenyum padanya, mulai melalingkan pandangannya. Getrin tertawa, begitu juga dengan Suna. Dia merasa dirinya aneh, dia boleh menatap orang lain tetapi orang lain tidak boleh menatapnya, apa lagi sambil senyum-senyum begitu! Nanti Suna bisa ke-GR-an dibuat Getrin. Tepat pada saat itu, pesanan Suna dan Getrin sudah datang dibawakan si pelayan. Suna dan Getrin mengucapkan terima kasih lalu si pelayan itu pun pergi.
“Oh iya, ada apa mengajakku kesini?” tanya Suna sambil meminum minumannya
“Nggak ada apa-apa. Hanya saja, kenapa tadi kau tidak masuk sekolah? Aku khawatir lho” balas Getrin yang memperhatikan Suna
Suna tidak merespon, dia lalu memalingkan pandangannya dan mulai murung. Getrin tau apa alasannya, Suna pasti takut bertemu dengan Ney. Sudah diduganya, Ney merupakan alasan Suna menjadi aneh akhir-akhir ini. Suna jadi jarang senyum juga mengontaknya, setiap kali di telepon pasti tidak merespon. Meskipun sewaktu dibandara dia terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya dia terpikir akan amnesianya Ney kepadanya. Suna lalu melirik Getrin dan mulai kembali tersenyum
“Getrin, bagaimana keadaan Sumi? Katanya dia sekelas dengan kita, ya?” tanya Suna mengalihkan pembicaraan
“Iya, begitulah, dia duduk dibelakangmu. Tadi dia juga sempat kuatir karena kau tidak masuk” balas Getrin yang menatap jernih wajah Suna
“Begitu, ya… Tadinya aku juga ingin masuk sekolah, tetapi aku bangunnya kesiangan, jadi nggak masuk deh. Kalau pun masuk nanti juga adanya di omeli guru” kata Suna bohong
Getrin percaya dengan apa yang dikatakan Suna. Meski pun dia nggak yakin, tetapi mengingat kebiasaan Suna alasan itu masuk akal baginya.
“Ayo” kata Getrin sudah bersiap berdiri
“Eh? Mau kemana?”
“Bukankah sudah ku bilang kita ingin jalan-jalan? Ayo kita pergi, my Lady” balas Getrin dan memberikan tangannya pada Suna
❦
Ney sebal sekali hari ini. Itu dikarenakan Getrin yang menanyakan tentang Suna lagi dan menebak dia hanya pura-pura amnesia. Memang itu benar, untuk sementara Ney ingin melupakan Suna. Setidaknya, untuk sementara…
Apa aku bisa..? tanya Ney. Sepertinya dia gelisah.
Ney menyandarkan kepalanya di tembok kamarnya, merenungkan apa yang terjadi hari ini. Ney merasa sebal, apa lagi Getrin yang sepulang sekolah memberitau kalau dia akan jalan-jalan dengan Suna. Itu membuat Ney ingin memata-matai Suna dan Getrin. Tetapi apa bisa? Dia,’kan sedang berpura-pura amnesia akan Suna. Jadi terpaksa membiarkan Getrin dengan Suna. Satu harapannya, dia ingin agar Suna tidak jatuh cinta pada Getrin. Hatinya bisa sakit karena hal itu, tetapi mungkin keputusannya untuk melupakan Suna malah akan membari kesempatan pada Getrin, apa lagi pada saat itu Ney tidak sengaja mendengar kalimat yang tak ingin didengarnya.
Ah… Pikiranku kacau lagi..! gerutu Ney
Dadanya terasa sakit, seperti diremas-remas. Dia ingin bertemu Suna, meminta maaf padanya akan apa yang dia lakukan
“Ah..!! Sial!”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

ada miss typo ! ato memang sengaja?
BalasHapus`Satu harapan saja dari Getrin, dia ingin menang melawan Suna dengan cara yang imbang.`
good !!! keren XDD
Itu emang sengaja, soalnya kalau Papa amnesia, Getrin bisa menang dengan mudahnya bukan? Itu nggak adil bagi Getrin ^^
BalasHapusYups~
Masama pujiannya~ lain kali puji lagi yaaa, hahaha XDD -geplaked-
Keren,,! Keren XD
BalasHapusSuna hebat! XDDD
Hoshi terlalu memuji.. =///=
BalasHapusLain kali puji lagi ya! XD -geplaked-
Ahahaha ^^ Suna hebat! Hebaaattt XDD
BalasHapus*kepala Suna membesar tuh*
Ney kejam juga Q__=
Eh!? Hoshi jangan gitu dungs ><
BalasHapusGini2 Ney itu baik lho! Dia perhatian sama Suna cuma gara2 Suna waktu itu salah ngomong, Ney jadi nganggap itu serius... =="
=_=
BalasHapus=3=
=v=
=w=
=o=
Jadi...
=.=
Kapan mereka baikaann!!!? DXXXX
Kapan2~!! XDD -dilempar Hoshi ke Amrik-
BalasHapus