“Kau siapa?” Tanya Ney ketika dia sadar, wajahnya sedikit pucat
Apa? Siapa? Jangan katakan…
“Kau bicara apa? Ini aku Suna” kata Suna mencoba membuat Ney mengingatnya.
Suna yakin dia salah dengar. Ney nggak mungkin melupakannya. Lagi pula, kalau pun Ney melupakannya, apa yang akan dia lakukan?
“Siapa?” Tanya Ney
“Hei, Chibi, kau tidak mengenalnya? Dia ini temanmu. Suna” kata Halzen
“Suna? Siapa?” Tanya Ney mengerutkan keningnya
“Kakak tau siapa dia?” Tanya Ney lagi
“Apa? Tunggu dulu, kau mengingatku tetapi tidak mengenal Suna? Apa jangan-jangan kau melupakan bocah-bocahmu juga?” Tanya Halzen mencoba meyakinkan
“Sudah berapa kali aku harus memberitaumu H.A.L.Z.E.N…?? Jangan panggil mereka BOCAH!!” pintah Ney
Halzen dan Suna terdiam. Suna merasa dadanya terasa sakit. Sekejap energinya menghilang begitu saja. Suna seakan-akan kehilangan keseimbangan lalu pergi keluar kamar rawat dengan terburu-buru. Suna pergi, dia berlari entah kemana. Tak tau arahnya, yang terpenting adalah dia benar-benar pusing, tak bisa mengeluarkan energinya, tubuhnya seakan-akan tak bernyawa tetapi bisa bergerak. Semua seperti melayang-layang. Kemana dirinya?
Suna pun terduduk dibangku taman rumah sakit. Dia ingat kursi yang didudukinya itu adalah kursi yang waktu itu dia duduki pada saat tertidur dan bermimpi. Suna menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Dia merasa sakit, bahkan sampai bernafas saja sakit. Dia seperti mati rasa, tak tau apa yang dilihatnya, pemandangan begitu gelap dimatanya. Tangan sampai ujung kakinya menggigil lalu tanpa sadar mengeluarkan air matanya dan menangis.
Aku tak percaya Ney melupakanku begitu saja… apa yang sudah ku lakukan padanya? Apa dia membenciku? Apa dia ingin aku tidak ada?
Suna hanya duduk diam. Dia seperti patung, tidak bergerak, tubuhnya sulit bergerak, tidak bisa mengeluarkan suaranya dan mulai takut dengan kenyataan bahwa Ney melupakannya. Kalau Ney memang amnesia, dia bisa memakluminya, tetapi Ney masih ingat Halzen juga sahabat-sahabatnya itu.
Sadarlah dari mimpimu Suna! Ney nggak mungkin melupakanmu! Dia adalah sahabat yang amat sangat berarti bagimu, sama seperti Ney menganggapmu! Mungkin Ney masih agak lelah jadi ingatannya masih agak lupa-lupa atau karena baru sadar dari kecelakaan dan luka parahnya… Tapi… Kenapa… Kenapa hanya aku yang dilupakannya..?
Suna pun mulai menangis. Dia bersandar dibangku taman lalu menatap langit sambil meneteskan air matanya
Aku tak ingin kau melupakanku…
Setetes air mata pun menetes kematanya..
Aku tak ingin kau tak mengenalku…
Setetes demi setetes air matanya terjatuh…
Aku ingin kau mengetahuinya dulu…
Saat Suna menyadari sesuatu. Yang terjatuh ketangannya bukanlah air matanya. Tetapi hujan. Ya hujan rintik-rintik. Apakah awan juga menangis bahkan lebih deras dari tangisan Suna..?
Orang-orang kembali masuk ke rumah sakit. Hanya Suna yang berada disana, duduk diam dibawah pohon dan basah karena kehujanan. Saat Suna sadari bahwa dirinya sudah tak merasakan tetesan air hujan. Suna melirik ke atas dan melihat ada seseorang memayunginya. Suna melirik ke belakang dan dia melihat Getrin sedang berdiri membelakanginya.
“Suna, kenapa disini saat hujan? Ayo masuk ke rumah sakit!” pintah Getrin
Suna tidak menjawab. Mulutnya tidak mau terbuka dan berkata-kata. Getrin yang melihat Suna hanya diam tak bergerakpun terpaksa menggendong Suna masuk ke rumah sakit supaya dia tidak basah kuyup lebih dari itu. Dia bisa masuk angin.
Suna tidak menyadari kalau dirinya digendong Getrin. Suna merasa kalau dirinya terbang disebuah pelukan. Hangat, dan nyaman, sama seperti Ney..
❦
Getrin membawa Suna ke kantin rumah sakit. Dia sepertinya benar-benar syok karena Getrin sudah tau kalau Ney melupakan Suna. Sebenarnya Ney amnesia terhadap Suna karena dia ingin melupakan saat Suna bersamanya pada saat sehari sebelum kecelakaan.
“Aku tau kau masih syok, ya?” Tanya Getrin
Suna hanya diam. Wajahnya murung tanpa ekspresi. Matanya terasa berwarna hitam gelap pekat.
Baiklah, Getrin bersaha untuk tidak membahas Ney,
Yang penting sekarang Suna sudah baik-baik saja dan ku harap Suna bisa melupakan Ney untuk beberapa saat sampai Ney kembali mengingatnya
Getrin mencari topik lain yang disukai Suna. Suna mulai menatap Getrin lalu Getrin mencoba membuat Suna senang. Membahas yang lain selain keadaan Ney membuat Suna kembali. Suna bahkan sampai tak sadar kalau dia dan Getrin sudah mengobrol lebih dari sejam. Tetapi Suna masih saja enjoy. Getrin masih berharap Suna bisa melupakan Ney untuk beberapa saat sampai ingatan Ney kembali seperti semula.
“Suna, mau ku antar pulang?” Tanya Getrin
“Boleh saja, tetapi aku harus kembali ke kamar rawat dulu, aku meninggalkan ponselku disana” balas Suna lalu pergi meninggalkan Getrin
Getrin yang melihat Suna pergi meninggalkannya, langsung mengejar Suna dan mengawasinya kuatir akan ada apa-apa dengannya.
Getrin melihat Suna masuk ke kamar rawat Ney, dilihatnya Suna mengambil ponselnya dan melihat Ney yang sedang beristirahat. Suna lalu mengelus-elus kepala Ney dan berkata untuk cepat-cepat menginatnya. Suna lalu keluar dari kamar rawat, dilihatnya Getrin di depan pintu kamar rawat Ney, membuat Suna bingung dan bertanya pada Getrin
“Sedang apa kau disini Getrin?” Tanya Suna
“Aku mengawasimu, kuatir kau akan syok lagi..” balas Getrin
Suna terdiam murung. Lalu kembali bangkit dan tersenyum pada Getrin dan berkata kalau dia sudah tak apa-apa dan itu karena Getrin yang sudah menghiburnya.
Getrin tersenyum mendengar kata-kata itu dari Suna. Getrin lalu merangkul tangan Suna dan mengantarnya pulang ke rumah…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

“Suna, mau ku antar pulang?” Tanya Getrin
BalasHapus“Boleh saja, tetapi aku harus kembali ke kamar rawat dulu, aku meninggalkan ponselku disana” balas Suna lalu pergi meninggalkan
Ney
Bukannya ada salah tulis tuh?
Ney bukannya Getrin tuh?
Ah iya, salah.. =="
BalasHapusKebiasaan DX
Makasih atas kemata jeliaannya Khiiki~ XD
Hah? XD Mata jeliaan? Hwohohoho! Lucu amat XD
BalasHapusBwahahaha~
BalasHapusSuna lagi ngelawak mode~ -plak- XDD
keren Suna
BalasHapusHehehe, thx Shirasaka~! XD
BalasHapus