Oprasi Ney berjalan sukses. Suna merasa lega karena Ney sudah baikkan. Meski dia belum membuka matanya..
Suna duduk dibangku samping kasur Ney. Dia menatapi wajah Ney yang tertidur dan masih saja berharap akan membuka matanya. Tak lama, keluarga Ney juga sahabat-sahabatnya datang. Suna keluar membiarkan mereka bersama Ney sementara. Selagi menunggu, Suna pergi ke luar rumah sakit. Dia pergi ke toko bunga untuk membeli buket bunga untuk Ney.
Kuharap Ney baik-baik saja kata Suna dalam hatinya
Sesudah itu, dia kembali ke rumah sakit. Dilihatnya keluarga Ney masih ada didalam. Suna hanya diam lalu duduk di bangku depan kamar rawat Ney, menunggu keluarganya selesai. Suna sempat bengong dan banyak berhayal, meski semua itu langsung dilupakannya ketika salah satu sahabat Ney menyadarkannya dan mengajaknya makan siang bersama.
“Jadi kau disini sudah sejak Ney masuk RS?” Tanya Erza
“Iya, bisa dibilang begitu…” balas Suna murung
Suna merasa nggak enak bersama mereka, dia ingin kabur, ingin pergi, tak ingin melihat mereka, bertemu, mendengar suaranya, ataupun menatapnya. Dia merasa sesak dibuat mereka.. Ah bukan mereka… Salah satu diantara mereka…
“Kau pacarnya, ya?” Tanya Ray
Suna hanya diam tanpa kata. Wajahnya memerah dan dia menunduk untuk menutupi wajahnya. Ray yang melihat Suna hanya diam menunduk, langsung tertawa dan memberitau kalau dia hanya bercanda.
Tak lama, Halzen datang secara tiba-tiba dan membuat semuanya kaget begitu saja. Suna merasa kalau Halzen sedikit mirip dengan Ney, hanya saja rambut Zen lebih pirang ketimbang Ney. Suna jadi merasa kalau Halzen adalah Ney generasi ke 2, hehehe.
“Yo Bocah-bocah!” katanya
“Bocah..? Dasar bapak-bapak berkumis nan berjenggot panjang!” hina Erza
“Saya belum tua lho!” balas Halzen dengan tatapan sebal
“Terus?” Tanya Erza cuek
“Anu maaf, aku mau kembali dulu, terima kasih atas makan siangnya. Aku nggak ingin mengacaukan acara kalian..” sambung Suna lalu pergi meninggalkan mereka.
Halzen yang melihat Suna pergi, secara diam-diam mengikutinya. Suna ternyata kembali ke kamar rawat Ney. Dilihatnya dia masih memejamkan matanya. Suna pun murung. Dia menggigit bibir dan terus-terus bertanya-tanya kapan Ney akan sadar..?
Kapan kau sadar? Sekarang? Nanti? Besok? Atau tidak akan membuka matamu lagi? Kumohon jangan, aku nggak ingin kehilanganmu, aku ingin terus bersamamu… Aku selalu merasa nyaman bersamamu, entah kenapa aku jadi berbedar melihatmu, bahkan kalau kau menutup mata seperti ini. Apa kalau kau membuka matamu, jantungku bisa berdebar 2kali lipat lebih cepat? Ataukah jantungku akan copot dan aku akan jatuh begitu saja? Tidak. Semakin aku melihatmu, aku jadi merasa nyaman, begitu hangat. Tapi apa perasaan ini sama seperti aku bersama Getrin? Tapi ada yang berbeda antara dirimu dengan Getrin. Aku ingin selalu kau berharap… Aku ingin selalu kau mengerti… Kalau aku, menyukaimu..
“Sudah ku duga” kata seseorang dibalik pintu.
Saat Suna melirik siapa dia, ternyata itu Halzen! Dia mengintip? Ataukah dia membaca isi hatiku?
“Kenapa kau bisa ada disini?” Tanya Suna
“Seperti biasa, aku agak penguntit sama seperti CHIBI” balas Halzen
“Chi… Chibi..?” Tanya Suna bingung
Halzen hanya diam. Dia tidak membalas. Halzen lalu menyentil kening Suna. Suna tidak mengerti apa maksudnya. Dia mencoba bertanya tetapi tidak bisa karena Halzen menatapnya sinis. Kenapa?
“Kau menyukainya, ya?” Tanya Halzen
Suna hanya diam. Dia tidak berkata sedikitpun. Sesaat keadaan jadi hening. Lalu Suna bertanya pada Halzen bagaimana dia bisa mengetahuinya?
“Bagaimana? Kau sendiri yang mengucapkannya” balas Halzen bingung
Suna sama sekali tidak menyadari kalau ternyata tadi dia mengatakannya. Dia pikir itu hanya suara hatinya saja. Suna pun langsung terdiam dan menunduk menutupi wajahnya lagi. Halzen lalu tertawa kecil melihat Suna yang malu ketika ketahuan menyatakan perasaannya. Dia lalu menyentil kening Suna dan tetap tertawa. Suna lalu mulai mengomeli Halzen, dia memang mirip dengan Ney. Sama-sama heboh! Mungkin Suna akan kewalahan kalau Halzen harus jadi kakaknya sendiri. Kehidupannya akan makin kacau nantinya!
“Memangnya aku mengucapkannya, ya? Aku sendiri tidak menyadarinya” kata Suna menahan omelannya
Halzen masih saja tertawa. Suna pun terdiam menatap sinis Halzen. Halzen yang melihat tatapan mata Suna pun mulai mengangkat kedua tangannya tanda dia menyerah.
“Baik baik, aku nggak tega melihat seorang wanita harus marah-marah, apa lagi kalau sampai menatap sinis begitu” kata Halzen yang sedang mengangkat kedua tangannya
Suna mengerutkan kening. Dia merasa drajatnya sebagai perempuan direndahkan Halzen. Sebenarnya dia tidak marah, hanya sebal dengan helakuan Halzen yang terus-terusan mempermainkannya padahal dia serius.
“Ya, aku mendengarnya. Mungkin tanpa sadar kau tidak tau kalau kau mengucapkannya. Untunglah hanya ada aku, kalau sampai ketawan yang lain, entah bagaimana nasibmu nanti”
“Nasibku akan baik-baik saja”
“Aku tak meyakinkannya”
“Tapi aku yakin”
“Aku tidak”
“Aku yakin”
Halzen pun menatap Suna sambil tersenyum-senyum. Suna pun juga ikut senyum-senyum karena merasa kalau Halzen itu aneh!
“Baiklah, aku menyerah lagi.. Pendapat orang berbeda-beda. Apa lagi kau belum tau bagaimana histerisnya kalau Bocah-Bocah dan Orangtuanya mendengarnya! Mereka bisa memberimu hadiah 1000 pertanyaan dan bisa saja melakukan hal yang nggak-nggak padamu!” kata Halzen memberitau acuh tak acuh
“Aku harap kau berjanji mau merahasiakannya” kata Suna murung sambil menggenggam tangannya.
Halzen hanya diam. Suna tidak yakin kalau Halzen bisa menjaga harasia. Firasatnya jadi tidak enak, apa dia salah memilih orang untuk jaga harasia? Apa Halzen orang yang suka memberitau rahasia orang lain? Apa dia bisa dipercaya? Ya…
“Baiklah, aku akan merahasiakannya! Aku janji! Tapi sampai kapan kau mau aku merahasiakannnya?” Tanya Halzen
“Sampai aku bisa menyatakannya sendiri” balas Suna
Halzen tersenyum lagi pada Suna. Gadis itu benar-benar menarik untuknya. Anak yang unik, polos dan gampang percaya pada orang yang belum terlalu dikenalnya. Itu tidak baik untuknya…
Sesaat suasana jadi hening. Tetapi keheingan itu terputus ketika Suna melihat Ney membuka matanya. Suna langsung memeluk Ney tanpa sadar mengeluarkan air matanya. Suna amat senang. Bahkan amat sangat senang. Dia tidak tau apakah kesenangan ini bisa lebih dari kesenangan yang lain. Sekarang dia amat sangat bersyukur pada Tuhan. Tetapi..
“Kau siapa?”
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Fuuhhh...Ney amnesia! DX
BalasHapusIya niiihhh DDXXX
BalasHapusUnyuuuu 3X
BalasHapusKasihan Suna dong! Neyza kejamm!! DX
Oh, iya ^^
BalasHapusAku punya hadiah buat Suna. Ke link ini yah ^^
http://khiiki.blogspot.com/2010/09/award-1.html
Iya niiihh~~ TTATT
BalasHapusWah~! Makasih XDD
Ahaha ^^ Dou itta!
BalasHapusHahaha, Suna nomor 2 XD
BalasHapus