Sabtu, 25 September 2010
Between 2 Love (Chapter 8 : My Felling)
Suna duduk dibangku samping kasur Ney. Dia menatapi wajah Ney yang tertidur dan masih saja berharap akan membuka matanya. Tak lama, keluarga Ney juga sahabat-sahabatnya datang. Suna keluar membiarkan mereka bersama Ney sementara. Selagi menunggu, Suna pergi ke luar rumah sakit. Dia pergi ke toko bunga untuk membeli buket bunga untuk Ney.
Kuharap Ney baik-baik saja kata Suna dalam hatinya
Sesudah itu, dia kembali ke rumah sakit. Dilihatnya keluarga Ney masih ada didalam. Suna hanya diam lalu duduk di bangku depan kamar rawat Ney, menunggu keluarganya selesai. Suna sempat bengong dan banyak berhayal, meski semua itu langsung dilupakannya ketika salah satu sahabat Ney menyadarkannya dan mengajaknya makan siang bersama.
“Jadi kau disini sudah sejak Ney masuk RS?” Tanya Erza
“Iya, bisa dibilang begitu…” balas Suna murung
Suna merasa nggak enak bersama mereka, dia ingin kabur, ingin pergi, tak ingin melihat mereka, bertemu, mendengar suaranya, ataupun menatapnya. Dia merasa sesak dibuat mereka.. Ah bukan mereka… Salah satu diantara mereka…
“Kau pacarnya, ya?” Tanya Ray
Suna hanya diam tanpa kata. Wajahnya memerah dan dia menunduk untuk menutupi wajahnya. Ray yang melihat Suna hanya diam menunduk, langsung tertawa dan memberitau kalau dia hanya bercanda.
Tak lama, Halzen datang secara tiba-tiba dan membuat semuanya kaget begitu saja. Suna merasa kalau Halzen sedikit mirip dengan Ney, hanya saja rambut Zen lebih pirang ketimbang Ney. Suna jadi merasa kalau Halzen adalah Ney generasi ke 2, hehehe.
“Yo Bocah-bocah!” katanya
“Bocah..? Dasar bapak-bapak berkumis nan berjenggot panjang!” hina Erza
“Saya belum tua lho!” balas Halzen dengan tatapan sebal
“Terus?” Tanya Erza cuek
“Anu maaf, aku mau kembali dulu, terima kasih atas makan siangnya. Aku nggak ingin mengacaukan acara kalian..” sambung Suna lalu pergi meninggalkan mereka.
Halzen yang melihat Suna pergi, secara diam-diam mengikutinya. Suna ternyata kembali ke kamar rawat Ney. Dilihatnya dia masih memejamkan matanya. Suna pun murung. Dia menggigit bibir dan terus-terus bertanya-tanya kapan Ney akan sadar..?
Kapan kau sadar? Sekarang? Nanti? Besok? Atau tidak akan membuka matamu lagi? Kumohon jangan, aku nggak ingin kehilanganmu, aku ingin terus bersamamu… Aku selalu merasa nyaman bersamamu, entah kenapa aku jadi berbedar melihatmu, bahkan kalau kau menutup mata seperti ini. Apa kalau kau membuka matamu, jantungku bisa berdebar 2kali lipat lebih cepat? Ataukah jantungku akan copot dan aku akan jatuh begitu saja? Tidak. Semakin aku melihatmu, aku jadi merasa nyaman, begitu hangat. Tapi apa perasaan ini sama seperti aku bersama Getrin? Tapi ada yang berbeda antara dirimu dengan Getrin. Aku ingin selalu kau berharap… Aku ingin selalu kau mengerti… Kalau aku, menyukaimu..
“Sudah ku duga” kata seseorang dibalik pintu.
Saat Suna melirik siapa dia, ternyata itu Halzen! Dia mengintip? Ataukah dia membaca isi hatiku?
“Kenapa kau bisa ada disini?” Tanya Suna
“Seperti biasa, aku agak penguntit sama seperti CHIBI” balas Halzen
“Chi… Chibi..?” Tanya Suna bingung
Halzen hanya diam. Dia tidak membalas. Halzen lalu menyentil kening Suna. Suna tidak mengerti apa maksudnya. Dia mencoba bertanya tetapi tidak bisa karena Halzen menatapnya sinis. Kenapa?
“Kau menyukainya, ya?” Tanya Halzen
Suna hanya diam. Dia tidak berkata sedikitpun. Sesaat keadaan jadi hening. Lalu Suna bertanya pada Halzen bagaimana dia bisa mengetahuinya?
“Bagaimana? Kau sendiri yang mengucapkannya” balas Halzen bingung
Suna sama sekali tidak menyadari kalau ternyata tadi dia mengatakannya. Dia pikir itu hanya suara hatinya saja. Suna pun langsung terdiam dan menunduk menutupi wajahnya lagi. Halzen lalu tertawa kecil melihat Suna yang malu ketika ketahuan menyatakan perasaannya. Dia lalu menyentil kening Suna dan tetap tertawa. Suna lalu mulai mengomeli Halzen, dia memang mirip dengan Ney. Sama-sama heboh! Mungkin Suna akan kewalahan kalau Halzen harus jadi kakaknya sendiri. Kehidupannya akan makin kacau nantinya!
“Memangnya aku mengucapkannya, ya? Aku sendiri tidak menyadarinya” kata Suna menahan omelannya
Halzen masih saja tertawa. Suna pun terdiam menatap sinis Halzen. Halzen yang melihat tatapan mata Suna pun mulai mengangkat kedua tangannya tanda dia menyerah.
“Baik baik, aku nggak tega melihat seorang wanita harus marah-marah, apa lagi kalau sampai menatap sinis begitu” kata Halzen yang sedang mengangkat kedua tangannya
Suna mengerutkan kening. Dia merasa drajatnya sebagai perempuan direndahkan Halzen. Sebenarnya dia tidak marah, hanya sebal dengan helakuan Halzen yang terus-terusan mempermainkannya padahal dia serius.
“Ya, aku mendengarnya. Mungkin tanpa sadar kau tidak tau kalau kau mengucapkannya. Untunglah hanya ada aku, kalau sampai ketawan yang lain, entah bagaimana nasibmu nanti”
“Nasibku akan baik-baik saja”
“Aku tak meyakinkannya”
“Tapi aku yakin”
“Aku tidak”
“Aku yakin”
Halzen pun menatap Suna sambil tersenyum-senyum. Suna pun juga ikut senyum-senyum karena merasa kalau Halzen itu aneh!
“Baiklah, aku menyerah lagi.. Pendapat orang berbeda-beda. Apa lagi kau belum tau bagaimana histerisnya kalau Bocah-Bocah dan Orangtuanya mendengarnya! Mereka bisa memberimu hadiah 1000 pertanyaan dan bisa saja melakukan hal yang nggak-nggak padamu!” kata Halzen memberitau acuh tak acuh
“Aku harap kau berjanji mau merahasiakannya” kata Suna murung sambil menggenggam tangannya.
Halzen hanya diam. Suna tidak yakin kalau Halzen bisa menjaga harasia. Firasatnya jadi tidak enak, apa dia salah memilih orang untuk jaga harasia? Apa Halzen orang yang suka memberitau rahasia orang lain? Apa dia bisa dipercaya? Ya…
“Baiklah, aku akan merahasiakannya! Aku janji! Tapi sampai kapan kau mau aku merahasiakannnya?” Tanya Halzen
“Sampai aku bisa menyatakannya sendiri” balas Suna
Halzen tersenyum lagi pada Suna. Gadis itu benar-benar menarik untuknya. Anak yang unik, polos dan gampang percaya pada orang yang belum terlalu dikenalnya. Itu tidak baik untuknya…
Sesaat suasana jadi hening. Tetapi keheingan itu terputus ketika Suna melihat Ney membuka matanya. Suna langsung memeluk Ney tanpa sadar mengeluarkan air matanya. Suna amat senang. Bahkan amat sangat senang. Dia tidak tau apakah kesenangan ini bisa lebih dari kesenangan yang lain. Sekarang dia amat sangat bersyukur pada Tuhan. Tetapi..
“Kau siapa?”
Senin, 13 September 2010
Between 2 Love (Chapter 7 : Waiting you until open you're eyes )
‘Kenapa ini bisa terjadi..?’ Tanya Suna
Tak lama, Suna mendengar seseorang memanggilnya. Saat dirinya melirik kea rah orang tersebut, ternyata dia Getrin! Suna berlari kea rah Getrin lalu memeluknya menutupi wajahnya yang sedang sedih tanpa berkata sedikitpun. Getrin pun murung melihat wajah Suna, dia lalu memeluk Suna dan mencoba menenangkannya.
“Aku dengar katanya Neyza tertabrak mobil,ya?” Tanya Getrin
Suna hanya diam. Dia tak menjawab sama sekali. Getrin pun tersenyum, lalu menyenderkan kepalan Suna kebahunya.
“Sudahlah, tak usah diambil hati! Aku yakin Neyza pasti akan baik-baik saja! Asalkan kau selalu percaya pada dirimu kalau Neyza akan baik-baik saja, pasti hal itu akan terkabul” kata Getrin mencoba menghibur Suna
Suna masih saja terdiam. Tak sedikitpun ia berkata. Tak lama, seorang dokter keluar dari kamar Neyza. Suna langsung saja bertanya padanya tentang ke adaan Neyza.
“Dokter! Bagaimana ke adaan Ney? Dia baik-baik saja,’kan?” Tanya Suna
Dokter itu pun menundukkan kepalanya lalu menggeleng. Suna pun terdiam murung tak percaya. Seberapa parah keadaan Neyza?
“Kaki kanan dan tangan kirinya patah begitu saja, ditambah lagi sepertinya dia membutuhkan pendarahan yang cukup banyak diakibatkan banyaknya darah yang keluar pada saat kecelakaan. Dan lagi, dia perlu di opname sampai sembuh total juga oprasi untuk membetulkan kakinya dan juga tangannya. Ini memerlukan biaya yang cukup besar juga pengorbanan yang besar. Tapi akan ku usahakan untuk menyelamatkan jiwanya” jelas dokter itu.
Suna hanya murung. Dirinya menatap Neyza dari kaca pintu ruang rawat Neyza. Dilihatnya Neyza tertidur tak membuka matanya sedetikpun. Suna ingin sekali mencoba menolongnya. Dirinya tak ingin kehilangan Ney secepat itu. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan bersama Ney.
“Getrin aku… Akan menolong Ney…” kata Suna masih agak gugup
Getrin terdiam lalu tersenyum pada Suna. Getrin lalu mengelus-elus kepala Suna dan Suna mulai tersenyum.
“Baguslah kalau begitu, aku juga akan membantumu Suna” kata Getrin sambil tersenyum pada Suna
“Terima kasih Getrin” balas Suna sambil tersenyum ke Getrin
Esoknya…
“Suna, hari ini kau benar-benar mau menginap di rumah sakit?” Tanya Getrin
“Iya, tapi aku akan tetap sekolah kok!” balas Suna sambil tersenyum ke Getrin
Getrin hanya diam menatap Suna. Suna pun lalu pergi meninggalkan Getrin membawa barang-barangnya. Getrin pun mengejar Suna. Suna bingung dengan Getrin yang mengejarnya.
“Ada apa? Kau mau ikut?” Tanya Suna
“Nggak, Cuma mau menemanimu sampai rumah sakit. Aku kuatir kalau akan terjadi sesuatu padamu” balas Getrin
Suna tersenyum pada Getrin. Getrin pun menemani Suna sampai ke Rumah Sakit.
Sesampainya mereka di rumah sakit. Suna memasuki kamar Neyza. Dilihatnya Neyza masih belum membuka matanya dan berkata sedikitpun. Wajah Suna pun murung melihat Neyza. Dia lalu membuat origami 1000 burung bangau untuk Neyza.
‘Apa Ney akan terkejut kalau melihatnya, ya…?’ Tanya Suna sambil tersenyum membuat origami
Sambil membuat origami. Suna mendengarkan music menggunakan headset. Dirinya ingin menikmati waktu santai meski hanya sebentar. Sudah beberapa hari ini dia kelelahan karena Neyza juga Getrin yang terus-terusan memperebutkannya. Apa lagi waktu itu.. Waktu Neyza dan Getrin bertengkar disekolah. Suna masih ingat persis wajah Neyza yang benar-benar emosi. Seakan-akan tak ada yg boleh menjadi miliknya.
Tapi hal itu sudah berlalu. Dan sekarang yang ada hanyalah Neyza yang tertidur tanpa membuka matanya. Dengan penuh luka dan perban dirinya menutup matanya. Tak membuka sedetik, setengah detik, atau seper epmpat detik sekalipun. Mulutnya juga gak mau terbuka, tertutup rapat. Tak ada suara yang dikeluarkannya selama seharian. Sampai kapan hal ini akan berakhir..?
‘Ini kayak cerita Sleeping Beauty’ pikir Suna dalam hatinya yang senyum-senyum melihat Neyza yang tertidur sambil membuat origami
Memang. Ini mirip seperti cerita Sleeping Beauty. Tapi mungkin kali ini Suna lah yang menjadi sang pangeran sedangkan Neyza yang menjadi putrid tidurnya.
‘Tunggu dulu, kalau kayak cerita Sleeping Beauty berarti aku harus cium Ney biar dia sadar…?? NGGAKK!!! NGGAK AKAN!!’ pikir Suna dalam hati
Pikiran Suna mulai kacau. Dirinya melihat wajah Neyza yang tertidur itu jadi berdebar-debar. Suna pun mengelus-elus rambut Neyza lalu tertawa kecil dengan tingkahnya sendiri.
Tak lama, seorang dokter dan suster pun datang. Memberitau kalau besok Ney akan di oprasi kaki dan tangannya. Suna mengangguk, lalu keluar dari kamar Ney karena Ney harus dirawat terlebih dahulu. Suna pergi ke taman yang ada di rumah sakit. Taman di rumah sakit benar-benar bagus! Banyak tumbuhan dan bunga-bunga jadi terasa segar.
“Taman rumah sakit bagus juga, ya!” katanya sambil menghela nafas
Suna duduk di bangku taman dekat dengan pohon rindang. Tempat yang teduh, segar, wangi karena bunga-bunga Benar-benar membuat pikirannya tenang. Tanpa disadarinya, Suna pun tertidur di bangu taman. Dirinya bermimpi ada seorang cowok yang datang menemuinya. Dia mirip sekali dengan Ney. Apa memang dia Ney…?
“Kau siapa..?” Tanya Suna
Cowok itu hanya diam lalu mendekati Suna. Suna mencoba menjauh tetapi tak bisa. dibelakangnya sudah mentok. Tak ada jalan untuk keluar dari kanan, atau pun kiri. Cowok itu menjebak Suna. Lalu wajahnya pun mendekati wajah Suna..!!
“Ja.. Jangan..!” pintah Suna yang mencoba menghentikan cowok itu.
Cowok itu hanya diam. Lalu menyentuh bibir Suna dan dan dan…
“Jangan!!” pekik Suna yang terbangun dari tidurnya.
Suna pun kembali sadar dan langsung lupa akan mimpinya barusan. Suna masih ingat kalau dirinya tertidur di bangku taman karena suasana taman yang begitu tenang dan menyejukkannya.
“Aku harus segera kembali” kata Suna.
Suna pun beranjak berdiri dari tempat tidurnya, lalu dia pergi meninggalkan taman dan kembali ke kamar rawat Ney. Dilihatnya dokter masih belum selesai memeriksa Ney. Suna pun menunggu di kursi depan kamar rawat sambil memberitau Getrin keadaan Ney.
“Suna, bagaimana keadaan Neyza..?” Tanya Getrin di telpon Suna
“Kurasa belum ada perubahan, dokter masih memeriksanya. Ku harap akan ada kabar baik pada saat dokter keluar kamar rawat” balas Suna
“Aku juga berharap begitu..” sambung Getrin
Tak lama, dokter keluar dari kamar Ney. Suna langsung menutup telponnya dan menanyakan keadaan Ney.
“Dokter, bagaimana keadaan Ney..?” Tanya Suna serius
“Kau bisa lihat sendiri nanti” balas dokter itu singkat lalu pergi meninggalkan Suna.
Suna hanya diam lalu memasuki kamar rawat Ney. Dilihatnya Ney masih tertidur tak membuka mata dan berbicara sedetikpun.
‘Apanya yang harus dilihat…?’ Tanya Suna murung
Suna lalu menutup pintu ruang rawat. Dia berbalik arah dan masih saja melihat Ney tidak sadarkan diri. Suna hanya murung. Yakin dengan dugaannya kalau Ney takkan sadar semudah itu. Suna hanya duduk di depan Ney sambil murung. Berharap Ney akan cepat sadar. Akan cepat membuka matanya. Akan cepat memanggil namanya.
‘Perasaanku jadi gak enak..’ kata Suna
Jantungnya berdebar begitu kencang. Tak bisa di hentikan… Tak bisa berhenti… Tak tau harus bagaimana..
‘Ada apa dengan diriku..?’ Tanya Suna
‘Pikiranku kacau melihat Ney.. Apa yang ku pikirkan sama sekali nggak aku mengerti.. Jantungku berdebar melihat Ney… Mungkinkah, aku menyukai Ney…?’
Kamis, 09 September 2010
Between 2 Love (Chapter 6: Friends Started)
“Ney, ada apa? Ngantuk, ya?” Tanya Suna sambil tersenyum pada Neyza
“Kalau tau nggak usah nanya” balasnya judes
Suna hanya diam lalu cemberut melihat Neyza. Dia lalu memukuli kepala Neyza mencoba untuk membuatnya semangat
“Kejam! Masa jawabnya judes gitu sih!? Aku,’kan lagi berbaik hati mau menghiburmu! Huh!!” kata Suna sebal yang masih memukuli kepala Neyza
“Aduh! Sakit! Hentikan ah! Iya iya, aku semangat deh!” kata Neyza yg kesakitan dipukuli Suna
“Hehehe” sambung Suna senyum
Neyza yang melihat wajah Suna senyum. Membalasnya dengan cemberut. Suna kembali memukuli Neyza sampai dia mau tersenyum. Tak lama, Getrin datang dengan membawakan Suna dan Neyza roti. Neyza hanya berpikir apakah ini rencana yg dilakukan Getrin supaya Suna menyukainya? Atau,’kah dia hanya berlagak didepan Suna supaya Suna menyukainya?
Neyza menatap wajah Getrin dengan penuh emosi. Sebaliknya Getrin juga begitu. Seakan ada kilat kebencian yg dalam diantara mereka berdua.
Suna menatap Getrin dan Neyza. Dia merasa ada yg nggak beres dengan mereka berdua. Wajahnya langsung berubah drastis menjadi murung dan mencoba kembali dan tetap tersenyum.
Neyza yang tak sengaja melihat wajah Suna murung, langsung memukul kepalanya sambil berkata..
“Ayo semangat dong!” katanya
Suna terdiam lalu tertawa melihat Neyza mengikuti apa yang barusan dilakukannya. Memang benar, jika menyuruh orang bersemangat, maka diri sendiri juga harus semangat! Getrin tersenyum melihat Suna dan Neyza akrab. Getrin lalu mencoba mengambil celah diantara Suna dan Neyza.
“Suna, sepulang sekolah nanti, kau ada acara tidak?” Tanya Getrin
“Nggak, memangnya knp?” Tanya balik Suna
Getrin tersenyum, lalu mengelus kepala Suna sambil berkata..
“Kalau gak ada waktu, dari pada pengangguran dirumah, bagaimana kalau jalan-jalan?” Tanya Getrin
“Boleh! Kemana kemana?” Tanya Suna nggak sabaran
“Terserah Suna. Suna maunya kemana?” Tanya Getrin
“Ke kuburan” selip Neyza dengan tampangnya yang seakan-akan gak setuju
Suna dan Getrin menatap Neyza yang sepertinya sebal. Suna tertawa melihat wajah Neyza yang seakan-akan sirik akan ke akrabannya dengan Getrin tadi.
‘Sepertinya Ney ngambek’ pikir Suna yg menatap Neyza sambil senyum-senyum
Neyza yang melihat Suna, bertanya padanya
“Kenapa senyum-senyum?” tanyanya sebal
Suna masih saja senyum-senyum melihat Neyza. Lalu memberi jawaban
“Kau mau ikut Ney?” Tanya Suna
“Ha?” Tanya Neyza super singkat nan gak jelas
Suna tertawa kecil dengan jawaban Neyza. Neyza yang bĂȘte pun pergi meninggalkan Suna dan Getrin. Getrin terdiam melihat Suna yang senyum-senyum melihat Neyza. Getrin lalu mengelus kepala Suna lalu menyandarkannya kebahunya.
“Kau benar-benar manis kalau sedang tersenyum, ya” katanya pada Suna
Pipi Suna memerah. Dirinya langsung saja memberi tau kalau Getrin terlalu memujinya. Getrin hanya tertawa kecil. Lalu lagi-lagi mengelus kepala Suna yang dianggapnya lucu.
Sepulang sekolah~ :D
“Suna, ayo!” kata Getrin mengulurkan tangannya
Suna menggenggam tangan Getrin lalu mereka pergi jalan-jalan. Neyza yang tak sengaja melihat Suna menggenggam tangan Getrin, merasa kalau dirinya dikalahkan hanya dalam 1hari. Dirinya menyangka kalau Getrin berhasil mendapatkan Suna sebelum dirinya.
Neyza langsung saja memata-matai Suna dan Getrin. Dirinya ingin memastikan apa benar dirinya sudah dikalahkan olhe Getrin?
Neyza memata-matai mereka berdua dengan serius. Dirinya tak sudi kalau harus kalah dari Getrin.
‘Si Getrin pake tak tik apaan sih…?’ Tanya Neyza dalam hatinya
Dirinya merasa sebal dengan Getrin juga Suna yang dengan mudahnya diajak Getrin. Terlalu polos, tetapi itulah yg membuat Neyza menyukainya.
Neyza terus-terusan memata-matai Getrin dan Suna. Ternyata mereka pergi ke sebuah toko baju gothic Lolita. Suna mencoba salah satu dari sekian banyak pakaian yang paling disukanya. Suna yang memakai baju gothic Lolita benar-benar manis! Baju gothloli warna hitam dengan renda putih dibagian daster benar-benar pantas untuknya. Getrin pun tak segan membelikan baju itu untuk Suna selagi dia cocok dan suka. Suna pun menolak, tetapi Getrin memaksa dan membuat Suna tak punya pilihan lain. Sesudah membeli baju, Getrin mengajak Suna ke tempat yang bagus. Suna mengikuti Getrin sesampainya disana, Getrin memperlihatkan Suna pemandangan yang sangat indah! Disana penuh dengan bunga, rumput yang hijau juga angin siang yang menyejukkan.
“Getrin, tempat ini luar biasa!” puji Suna
“Makasih, kebetulan aku menemukannya, jadi kupikir akan lebih baik kalau aku mengajakmu” balas Getrin
“Hehehe, aku juga harus berterima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar senang!” kata Suna sambil tersenyum
“Tak usah di pedulikan, lagi pula akulah yang harus berterima kasih” balas Getrin
“Tapi Suna juga harus bilang makasih, soalnya udah ke enakan banget nih! Di traktir baju mahal terus diajak kesini, Suna gak pay apa-apa…” kata Suna tegang
Getrin tertawa kecil melihat Suna. Suna yang tau dilihat Getrin yg tertawa pun pipinya mulai merah. Getrin tersenyum melihat Suna lalu menyentil kecil kening Suna.
“Hahaha, kau memang lucu, ya Suna!” kata Getrin sambil tertawa
“Uh… Benar-benar deh kau Getrin..” balas Suna agak ngambek
“Maaf maaf, abis kamu lucu banget sih! Jangan ngambek dong!” balas Getrin mencoba membuat Suna senang
Suna terdiam dan masih terlihat ngambek. Getrin hanya senyum-senyum dan yakin kalau Suna hanya pura-pura ngambek
“Pura-pura,’kan?” Tanya Getrin
Ekspresi wajah Suna langsung berubah. Dia lalu langsung memukuli Getrin mencoba menahan malunya.
“Dasar kau Getrin! Benar-benar cowok yang paling ku suka!” kata Suna yg memukuli Getrin
Neyza yg mendengarnya, terdiam dan pergi. Getrin yang mendengarnya pun terdiam tak percaya dengan apa yang dikatakan Suna.
“Suna, tadi.. kau bilang apa?” Tanya Getrin
Suna hanya diam menutupi ucapannya. Dirinya tak menjawab pertanyaan Getrin dan hanya membalas..
“Ah, maaf… omonganku ke ceplosan.. maksudku, kau adalah sahabatku yang paling ku sayang begitu..” balas Suna mencoba menarik kata-katanya.
Getrin terdiam. Dia lalu tersenyum pada Suna lalu mencium kening Suna. Pipi Suna memerah, tetapi dia senang bisa bersama Getrin. Getrin pun mengantar Suna pulang. Sesampainya Suna dirumah, Suna mendapat SMS dari temannya. Suna membaca isi pesannya lalu terdiam tak bergerak sampai-sampai tak sadar kalau ponselnya terjatuh.
Suna mencoba kembali sadar. Temannya lalu menelponnya. Suna mengangkat lalu bertanya apakah SMS yang dikirimnya itu benar?
“Aku nggak bohong Suna! Percaya deh!” kata teman Suna
“Tapi nggak mungkin! Ini gak mungkin terjadi! Ney pasti baik-baik saja,’kan..?” Tanya Suna mencoba meyakinkan
“Nggak, aku berani bersumpah Suna!” kata teman Suna
“Nggak! Aku nggak percaya!! Aku nggak percaya kalau Ney kecelakaan!!”
Minggu, 05 September 2010
Between 2 Love (Chapter 5 : Contending rivals)
Getrin hanya diam tak membalas apapun. Dia lalu menggenggam kedua tangan Suna sambil menundukkan kepala lalu berkata
“Soalnya… Sepertinya aku.. Suka padamu” balas Getrin yang masih menundukkan kepalanya
Suna terdiam tak tau ingin mengatakan apa lagi. Jawaban apa yang harus diberikannya? Dirinya tau kalau dia suka pada Getrin tetapi mulutnya tak bisa terbuka dan membalas perasaannya. Getrin yang melihat Suna terdiam tak menjawab. Langsung mengajak Suna pulang karena merasa tak ada yg ingin dikatakan Suna terhadap perasaannya.
Suna hanya mengangguk murung tak berkata apapun. Meskipun merasa nggak enak karena nggak menjawab perasaan Getrin, Suna merasa nggak pantas jadi pacar Getrin. Nggak tau apa yang dipikirkannya dan tak ingin menjawab bukan keinginan Suna, tetapi keinginan hatinya yang kebingungan… Ada apa dengannya?
“Nah, sampai ketemu besok, ya Suna” kata Getrin yang melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Suna.
Suna hanya membalas melambaikan tangannya, tak berkata apa-apa lalu masuk ke rumahnya. Sesampainya dikamarnya, Suna langsung bergeletak tak berdaya dikasurnya. Memikirkan kejadian yang terjadi hari ini. Sugguh diluar dugaannya! Tak disangka Neyza memata-matai Suna dan Getrin lalu Getrin menyatakan perasaannya padanya. Pikirannya mulai kacau dan hanya berharap untuk bersabar menunggu esok…
Esoknya…
Getrin mencoba menunggu Suna untuk pergi kesekolah bareng dengannya. Tetapi pada saat dia sampai didepan rumah Suna, terlihat Neyza sedang menunggu Suna. Getrin pun mendekati Neyza lalu bertanya padanya
“Sedang apa kau disini?” Tanya Getrin
“Untuk apa aku berdiri disini jika tak ada keperluan? Sudah pasti menunggu Suna” balas Neyza agak ketus
Getrin hanya diam. Dia lalu meninggalkan Neyza dan pergi kesekolah sendirian.
‘Apa-apaan sih si Neyza itu! Nggak sadar dengan apa yang dilakukannya kemarin! Sebenarnya apa tujuannya sih..?’ Tanya Getrin didalam hatinya
Getrin frustasi dengan Neyza, merasa kalau dia ingin memanfaatkan Suna dan mulai mencari cara untuk menjauhkan Suna dari Neyza.
Sementara itu Suna…
“Suna, maaf ya… Soal kemarin..” kata Neyza meminta maaf pada Suna
“Nggak apa kok, aku sudah mulai mendingan” balas Suna sambil tersenyum kecil
Neyza tersenyum melihat Suna yg tersenyum. Dia lalu menggenggam tangan Suna lalu mengajaknya berlari ke sekolah karena sebentar lagi bel sekolah mulai berbunyi. Suna yang tangannya digenggam Neyza, tak bisa melepas genggamannya dan mulai merasakan kehangatan tangan Neyza.
Sesampainya mereka disekolah, Neyza melepas genggamannya dan langsung dikerubuti teman-temannya itu. Suna hanya cuek. Lalu pergi memasuki kelas. Pada saat dikelas, dilihatnya Getrin sedang duduk serius membaca buku. Suna menyapa Getrin lalu Getrin malah menarik tangan Suna dan keluar kelas.
Suna nggak mengerti apa maksud Getrin. Tak biasa wajahnya terlihat emosi seperti itu. Ada apa dengannya?
“Getrin, kenapa? Punya masalah?” Tanya Suna
Getrin hanya diam. Dia lalu memeluk Suna sambil berkata
“Aku nggak akan pernah membiarkanmu, bersama Neyza lagi..” katanya dengan suara yg begitu jernih
Jantung Suna berdebar kencang. Dirinya tak bisa lepas dari pelukan Getrin. Suna hanya diam tanpa kata dipeluk Getrin. Tak lama, Neyza muncul dan tak sengaja melihat Suna dan Getrin berpelukan langsung. Menampar Getrin dan perkelahian mereka berduapun terjadi. Suna langsung mencegah mereka berdua meski pada akhirnya Suna juga kena tampar dari Neyza sampai pipinya merah.
Perkelahian itu terjadi ketika kepala sekolah membawa Neyza dan Getrin ke ruang kepala sekolah dan Suna dibawa ke UKS. Suna hanya terdiam mengingat kejadian tadi. Dirinya menyadari kalau ternyata Getrin dan Neyza memang menyukai dan memperebutkannya.
‘Kenapa jadi begini? Kenapa Cuma karena aku jadi bertengkar? Apa yang harusnya ku lakukan…?’ Tanya Suna didalam hatinya yang benar-benar bingung
Tak lama, Getrin muncul lalu langsung mengelus-elus kepala Suna. Wajahnya terlihat murung melihat Suna. Suna mencoba menatap Getrin lalu tersenyum padanya.
“Aku nggak apa kok” balas Suna sambil tersenyum
Getrin yang menatap senyuman Suna, ikut tersenyum melihatnya dan tetap mengelus-elus kepala Suna. Neyza yang tak disangka mengintip dari jedela UKS, dirinya hanya diam dan tak masuk sama sekali. Lalu pergi meninggalkan sekolah.
‘Aku tau Suna menyukai Getrin, dan aku tau Getrin juga menyukai Suna. Tetapi apa tak ada tempat untukku bisa bersama Suna? Getrin terlalu rakus untuk jadi milik Suna’ pikir Neyza dengan emosinya
Neyza pergi meninggalkan sekolah lalu pulang kerumah. Dia mengurung diri dikamar sambil menyetel lagu dengan headsetnya dan tergeletak tak berdaya sambil merenungkan apa yang terjadi hari ini. Benar-benar menyebalkan untuknya.
Pada saat Neyza sedang asik mendengar musik, suara batu yg terlempar ke kaca kamarnya membuatnya melihat kebawah lalu turun. Pada saat keluar, tak disangka orang itu adalah Getrin! Mau apa dia?
“Mau apa kau kesini?” Tanya Neyza
“Cuma mau memberitaukanmu sesuatu” balas Getrin
“Apa?” Tanya Neyza
“Kau, aku dengar kau pernah menyatakan perasaanmu pada Suna, ya?” Tanya balik Getrin
“Kalau iya kenapa?” Tanya lagi Neyza
“Begini saja, aku nggak mau mencari masalah denganmu, jadi supaya adil, kita buat kopetinsi” kata Getrin serius
“Kompetisi apa?” Tanya Neyza
“Kita saling beradu, siapa yang paling disukai Suna, dialah yang menang dan berhak pacaran sama Suna”
Rabu, 01 September 2010
Between 2 Love (Chapter 4 : Smile with him)
‘Aku suka padamu’
Kalimat itu tergiang terus ditelinga Suna. Dirinya tak bisa memikirkan apa-apa lagi selain apa yg terjadi hari ini.
‘Sebenarnya apa maksud Ney, sih? Kenapa tiba-tiba Ney bilang suka padaku? Memangnya apa yg kuperbuat padanya?’ Tanya Suna dalam hati yang benar-benar tak mengerti.
Tak lama kemudian setelah Suna bingung bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ponsel Suna pun berbunyi. Pada saat Suna cek ternyata SMS dari Getrin. Suna langsung membacanya dan ternyata Getrin ingin mengajak Suna jalan-jalan ketaman hiburan besok. Suna menerimanya karena merasa mungkin ini bisa jadi membuatnya melupakan Neyza untuk sementara waktu.
Esoknya…
Hari ini Getrin sedang menunggu Suna didepan stasiun kota. Dia menarik headset-nya lalu memasang speakernya ketelinga dan menyetel lagu. Tak lama, Suna datang dengan tergesah-gesah, kuatir Getrin menunggu terlalu lama.
“Kau terlihat capek, buru-buru, ya?” Tanya Getrin
“Iya, waktu kau SMS sudah sampai, aku baru selesai sarapan, jadinya buru-buru” balas Suna tergesah-gesah.
Getrin hanya tertawa kecil pada Suna, lalu dia membelikan Suna minuman dingin untuk membuatnya sedikit lebih baik.
“Nah, ayo. Sebentar lagi Kereta kita sudah sampai” kata Getrin yang melihat jadwal kereta
Suna menangguk, dia lalu menggenggam tangan Getrin sambil tersenyum manis padanya. Getrin pun membalas senyuman Suna tanpa menarik tangannya dari genggaman tangan Suna. Justru Getrin malah makin memegang erat tangan Suna.
Pada saat didalam kereta, tak sengaja Suna melihat seseorang yang mirip sekali dengan Neyza bersama dengan 4 orang cowok lainnya. Suna hanya cuek dan berusaha tak memikirkannya. Meski ingin seperti itu, tak sengaja Suna mendengar salah satu dari ke-4 cowok itu memanggil “Jendral Neyza”. Lantas saja pikiran kemarin tergiang kembali di telinga Suna. Ingin dilupakan, tetapi sulit dilupakan. Ingin dihapus, tetapi sulit untuk dihapus. Pikiran Suna mulai kacau dan dirinya pun bersandar dipundak Getrin. Getrin hanya diam lalu bertanya pada Suna.
“Kamu kenapa Suna? Nggak enak badan, ya?” Tanya Getrin
“Nggak, Cuma pikiranku sedikit kacau. Mungkin jika bersandar, akan lebih baik” balas Suna
“Tapi benar nggak apa-apa?” Tanya Getrin lagi
“Nggak apa, lanjut saja” balas Suna sambil tersenyum senang serasa tak ada beban dipikirannya.
Getrin lalu mengelus-elus kepala Suna yang dianggapnya lucu. Suna lalu menyuruh Getrin menghentikannya karena Suna merasa kalau dia diperlakukan seperti anak kecil. Getrin pun tertawa dan tetap mengelus-elus Suna sampai-sampai Getrin sulit untuk berhenti tertawa karena Suna yang ngomel-ngomel minta berhenti di elus karena takut dianggap anak-anak.
Keributan antara Suna dan Getrin menarik perhatian Neyza itu melirik kearah Suna dan Getrin. Dilihatnya Suna dan Getrin bergitu akrab. Berbeda jika Suna bersamanya. Tak tau kenapa dirinya merasa sudah melakukan hal bodoh pada Suna. Teman Neyza yang melihat Neyza murung, langsung bertanya padanya.
“Kenapa Jendral?” Tanya salah satu teman Neyza
“Ah, bukan apa-apa Letnant” balas Neyza singkat
Teman Neyza melihat apa yang dilihat Neyza. Ternyata yang dilihatnya adalah Suna dan Getrin. Membuatnya langsung berpikir kalau Neyza menyukai cewek yang bersama cowok itu.
“Tenang aja Jendral! Nanti tuh cewek juga bakalan cinta sama anda!!” kata teman Neyza mencoba menggodanya
“Kuharap juga begitu” balas Neyza
Sesampainya mereka ditempat tujuan, Suna dan Getrin langsung bersenang-senang sampai lupa waktu. Makan siang saja mereka jam 3 menjelang sore. Lalu kembali bermain sampai semua wahana sudah dimainkan.
“Haduh, seru banget hari ini!!” kata Suna benar-benar senang
“Ya, aku juga begitu” balas Getrin
“Oya, nanti kita sekalian liat kembang api jam 8 malam nanti, ya!” sambung Getrin
“Kembang api? Kayaknya seru! Boleh-boleh!” balas Suna senang
Getrin tersenyum melihat Suna. Tak lama terdengar suara gendang didalam diperut Suna (alias perut keroncongan). Wajah Suna langsung merah karena malu. Getrin lalu tertawa kecil dan mentraktir Suna makan malam. Suna awalnya menolak dan lebih memilih dirinyalah yang mentraktir Getrin tetapi karena Getrin berseri keras, tak bisa Suna menolak.
“Getrin, maaf ya.. Lagi-lagi kau harus mentraktirku” kata Suna menundukkan kepalanya
Getrin menggeleng, lalu mengangkat wajah Suna yang murung dan terlihat kurang senang.
“Nggak apa kok. asalkan kau senang saja, itu sudah cukup untukku” kata Getrin mencoba membaut Suna senang
Suna tersenyum. Lalu tak lama Suna melihat cowok yang mirip Neyza itu menatapnya. Suna sudah tak curiga lagi karena merasa kalau dirinya diawasi oleh cowok itu. Suna lantas mendekati cowok itu dan dugaannya tak salah kalau dia adalah Neyza!
“Kenapa kau ada disini?” Tanya Suna
“Aku datang mengawasimu” balas Neyza singkat
“Aku tak perlu kau awasi! Pulanglah!!” pintah Suna
“Hei! Nggak usah marah-marah begitu dong!” pekik teman Neyza
“Kolonel, sudahlah tak usah membentaknya! Biarkan dia melakukan apapun sesukanya” balas Neyza
Suna hanya diam. Dia lalu mencoba menampar Neyza tetapi ditahan oleh Getrin.
“Sudahlah, kalau kau kesal, kita pergi saja” kata Getrin pada Suna
Suna mengangguk. dirinya paling tak suka jika dimata-matai dari belakang. Itu sama saja seperti penguntit. Getrin yang melihat Suna murung lagi. Tak segan bertanya pada Suna
“Suna, tadi apa yang dilakukannya?” Tanya Getrin
“Bukan apa-apa. Tapi aku kesal melihatnya” balas Suna yang mulai ingin menangis
“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Yuk kita lihat kembang api” kata Getrin yang menyandarkan kepala Suna kebahunya
Suna hanya diam dan mulai meneteskan air matanya. Getrin lalu mengusap air mata Suna dengan sapu tangannya. Suna merasa nyaman dengan Getrin. Seakan tak ingin berpisah dengannya. Ketika Getrin sedang mengusap air mata Suna. Kembang api muncul dengan mengagetkan mereka berdua. Suna terpaku kepada kembang api yang dilihatnya dan kembali senang. Getrin tersenyum senang lalu tanpa sadar dirinya mencium pipi Suna. Suna terdiam lalu menatap Getrin dengan pipinya yang merah dan jantungnya mulai berdebar kencang!
“Getrin, tadi… Apa yang kau lakukan..?” Tanya Suna nggak percaya
