Suna segera bergegas pergi kerumah sakit tempat Neyza dirawat. Dirinya amat sangat panik sampai tak tahu ingin berkata apa lagi. Suna melihat ke jendela pintu kamar rawat Neyza dan ternyata dia benar-benar ada disana! Apa yang dikatakan temannya pun nggak salah!
‘Kenapa ini bisa terjadi..?’ Tanya Suna
Tak lama, Suna mendengar seseorang memanggilnya. Saat dirinya melirik kea rah orang tersebut, ternyata dia Getrin! Suna berlari kea rah Getrin lalu memeluknya menutupi wajahnya yang sedang sedih tanpa berkata sedikitpun. Getrin pun murung melihat wajah Suna, dia lalu memeluk Suna dan mencoba menenangkannya.
“Aku dengar katanya Neyza tertabrak mobil,ya?” Tanya Getrin
Suna hanya diam. Dia tak menjawab sama sekali. Getrin pun tersenyum, lalu menyenderkan kepalan Suna kebahunya.
“Sudahlah, tak usah diambil hati! Aku yakin Neyza pasti akan baik-baik saja! Asalkan kau selalu percaya pada dirimu kalau Neyza akan baik-baik saja, pasti hal itu akan terkabul” kata Getrin mencoba menghibur Suna
Suna masih saja terdiam. Tak sedikitpun ia berkata. Tak lama, seorang dokter keluar dari kamar Neyza. Suna langsung saja bertanya padanya tentang ke adaan Neyza.
“Dokter! Bagaimana ke adaan Ney? Dia baik-baik saja,’kan?” Tanya Suna
Dokter itu pun menundukkan kepalanya lalu menggeleng. Suna pun terdiam murung tak percaya. Seberapa parah keadaan Neyza?
“Kaki kanan dan tangan kirinya patah begitu saja, ditambah lagi sepertinya dia membutuhkan pendarahan yang cukup banyak diakibatkan banyaknya darah yang keluar pada saat kecelakaan. Dan lagi, dia perlu di opname sampai sembuh total juga oprasi untuk membetulkan kakinya dan juga tangannya. Ini memerlukan biaya yang cukup besar juga pengorbanan yang besar. Tapi akan ku usahakan untuk menyelamatkan jiwanya” jelas dokter itu.
Suna hanya murung. Dirinya menatap Neyza dari kaca pintu ruang rawat Neyza. Dilihatnya Neyza tertidur tak membuka matanya sedetikpun. Suna ingin sekali mencoba menolongnya. Dirinya tak ingin kehilangan Ney secepat itu. Masih banyak hal yang ingin dia lakukan bersama Ney.
“Getrin aku… Akan menolong Ney…” kata Suna masih agak gugup
Getrin terdiam lalu tersenyum pada Suna. Getrin lalu mengelus-elus kepala Suna dan Suna mulai tersenyum.
“Baguslah kalau begitu, aku juga akan membantumu Suna” kata Getrin sambil tersenyum pada Suna
“Terima kasih Getrin” balas Suna sambil tersenyum ke Getrin
Esoknya…
“Suna, hari ini kau benar-benar mau menginap di rumah sakit?” Tanya Getrin
“Iya, tapi aku akan tetap sekolah kok!” balas Suna sambil tersenyum ke Getrin
Getrin hanya diam menatap Suna. Suna pun lalu pergi meninggalkan Getrin membawa barang-barangnya. Getrin pun mengejar Suna. Suna bingung dengan Getrin yang mengejarnya.
“Ada apa? Kau mau ikut?” Tanya Suna
“Nggak, Cuma mau menemanimu sampai rumah sakit. Aku kuatir kalau akan terjadi sesuatu padamu” balas Getrin
Suna tersenyum pada Getrin. Getrin pun menemani Suna sampai ke Rumah Sakit.
Sesampainya mereka di rumah sakit. Suna memasuki kamar Neyza. Dilihatnya Neyza masih belum membuka matanya dan berkata sedikitpun. Wajah Suna pun murung melihat Neyza. Dia lalu membuat origami 1000 burung bangau untuk Neyza.
‘Apa Ney akan terkejut kalau melihatnya, ya…?’ Tanya Suna sambil tersenyum membuat origami
Sambil membuat origami. Suna mendengarkan music menggunakan headset. Dirinya ingin menikmati waktu santai meski hanya sebentar. Sudah beberapa hari ini dia kelelahan karena Neyza juga Getrin yang terus-terusan memperebutkannya. Apa lagi waktu itu.. Waktu Neyza dan Getrin bertengkar disekolah. Suna masih ingat persis wajah Neyza yang benar-benar emosi. Seakan-akan tak ada yg boleh menjadi miliknya.
Tapi hal itu sudah berlalu. Dan sekarang yang ada hanyalah Neyza yang tertidur tanpa membuka matanya. Dengan penuh luka dan perban dirinya menutup matanya. Tak membuka sedetik, setengah detik, atau seper epmpat detik sekalipun. Mulutnya juga gak mau terbuka, tertutup rapat. Tak ada suara yang dikeluarkannya selama seharian. Sampai kapan hal ini akan berakhir..?
‘Ini kayak cerita Sleeping Beauty’ pikir Suna dalam hatinya yang senyum-senyum melihat Neyza yang tertidur sambil membuat origami
Memang. Ini mirip seperti cerita Sleeping Beauty. Tapi mungkin kali ini Suna lah yang menjadi sang pangeran sedangkan Neyza yang menjadi putrid tidurnya.
‘Tunggu dulu, kalau kayak cerita Sleeping Beauty berarti aku harus cium Ney biar dia sadar…?? NGGAKK!!! NGGAK AKAN!!’ pikir Suna dalam hati
Pikiran Suna mulai kacau. Dirinya melihat wajah Neyza yang tertidur itu jadi berdebar-debar. Suna pun mengelus-elus rambut Neyza lalu tertawa kecil dengan tingkahnya sendiri.
Tak lama, seorang dokter dan suster pun datang. Memberitau kalau besok Ney akan di oprasi kaki dan tangannya. Suna mengangguk, lalu keluar dari kamar Ney karena Ney harus dirawat terlebih dahulu. Suna pergi ke taman yang ada di rumah sakit. Taman di rumah sakit benar-benar bagus! Banyak tumbuhan dan bunga-bunga jadi terasa segar.
“Taman rumah sakit bagus juga, ya!” katanya sambil menghela nafas
Suna duduk di bangku taman dekat dengan pohon rindang. Tempat yang teduh, segar, wangi karena bunga-bunga Benar-benar membuat pikirannya tenang. Tanpa disadarinya, Suna pun tertidur di bangu taman. Dirinya bermimpi ada seorang cowok yang datang menemuinya. Dia mirip sekali dengan Ney. Apa memang dia Ney…?
“Kau siapa..?” Tanya Suna
Cowok itu hanya diam lalu mendekati Suna. Suna mencoba menjauh tetapi tak bisa. dibelakangnya sudah mentok. Tak ada jalan untuk keluar dari kanan, atau pun kiri. Cowok itu menjebak Suna. Lalu wajahnya pun mendekati wajah Suna..!!
“Ja.. Jangan..!” pintah Suna yang mencoba menghentikan cowok itu.
Cowok itu hanya diam. Lalu menyentuh bibir Suna dan dan dan…
“Jangan!!” pekik Suna yang terbangun dari tidurnya.
Suna pun kembali sadar dan langsung lupa akan mimpinya barusan. Suna masih ingat kalau dirinya tertidur di bangku taman karena suasana taman yang begitu tenang dan menyejukkannya.
“Aku harus segera kembali” kata Suna.
Suna pun beranjak berdiri dari tempat tidurnya, lalu dia pergi meninggalkan taman dan kembali ke kamar rawat Ney. Dilihatnya dokter masih belum selesai memeriksa Ney. Suna pun menunggu di kursi depan kamar rawat sambil memberitau Getrin keadaan Ney.
“Suna, bagaimana keadaan Neyza..?” Tanya Getrin di telpon Suna
“Kurasa belum ada perubahan, dokter masih memeriksanya. Ku harap akan ada kabar baik pada saat dokter keluar kamar rawat” balas Suna
“Aku juga berharap begitu..” sambung Getrin
Tak lama, dokter keluar dari kamar Ney. Suna langsung menutup telponnya dan menanyakan keadaan Ney.
“Dokter, bagaimana keadaan Ney..?” Tanya Suna serius
“Kau bisa lihat sendiri nanti” balas dokter itu singkat lalu pergi meninggalkan Suna.
Suna hanya diam lalu memasuki kamar rawat Ney. Dilihatnya Ney masih tertidur tak membuka mata dan berbicara sedetikpun.
‘Apanya yang harus dilihat…?’ Tanya Suna murung
Suna lalu menutup pintu ruang rawat. Dia berbalik arah dan masih saja melihat Ney tidak sadarkan diri. Suna hanya murung. Yakin dengan dugaannya kalau Ney takkan sadar semudah itu. Suna hanya duduk di depan Ney sambil murung. Berharap Ney akan cepat sadar. Akan cepat membuka matanya. Akan cepat memanggil namanya.
‘Perasaanku jadi gak enak..’ kata Suna
Jantungnya berdebar begitu kencang. Tak bisa di hentikan… Tak bisa berhenti… Tak tau harus bagaimana..
‘Ada apa dengan diriku..?’ Tanya Suna
‘Pikiranku kacau melihat Ney.. Apa yang ku pikirkan sama sekali nggak aku mengerti.. Jantungku berdebar melihat Ney… Mungkinkah, aku menyukai Ney…?’
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Panjangin dikit dong,, Suna... =w=
BalasHapusApanya yg harus dipanjangkan..!? OwO
BalasHapusCeritanya,, O.Q
BalasHapusOh ia,, Suna makin jago lho! Penataan kata2nya sudah bagus! Fanfictnya makin enak d baca! Mata seger,, otak encer *baca : nggak rumit d baca ^.^* XDDD